Sabtu, 29 November 2025
Beranda / Ekonomi / Investasi IKFT Tembus Rp142 Triliun, Ekspor USD 35 Miliar Sepanjang 2025

Investasi IKFT Tembus Rp142 Triliun, Ekspor USD 35 Miliar Sepanjang 2025

Sabtu, 29 November 2025 15:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Redaksi

Direktur Jenderal IKFT, Taufiek Bawazier, mengatakan sektor IKFT tetap bertahan di tengah tekanan global. [Foto: dok. Kemenperin]


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Kementerian Perindustrian menyoroti ketangguhan sektor Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) yang dinilai menjadi penopang utama stabilitas manufaktur nasional sepanjang 2025. Kinerja positif ini disebut menjadi modal kuat memasuki 2026, sekaligus mendukung target pemerintah menuju pertumbuhan ekonomi 8% pada 2029.

Direktur Jenderal IKFT, Taufiek Bawazier, mengatakan sektor IKFT tetap bertahan di tengah tekanan global. “Optimisme pelaku industri menunjukkan kita berada di jalur yang tepat. Pemerintah memastikan ekosistem semakin kondusif agar investasi, ekspor, dan produktivitas terus meningkat,” ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima pada Sabtu (29/11/2025).

Hingga Triwulan III 2025, Industri Pengolahan Nonmigas tumbuh 5,58% YoY, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional 5,04%. Sektor IKFT mencatat pertumbuhan lebih tinggi, yakni 5,92%, dengan kontribusi 3,88% terhadap PDB.

Dari perdagangan luar negeri, ekspor IKFT periode Januari-Agustus 2025 mencapai USD 35,25 miliar, sementara impor USD 32,31 miliar. Ekspor ditopang produk kimia, pakaian jadi, dan alas kaki. Tingginya impor bahan baku kimia menunjukkan kebutuhan penguatan industri hulu.

Utilisasi kapasitas IKFT berada di kisaran 60%, terdorong hilirisasi migas dan bahan galian. Arus investasi juga meningkat signifikan: realisasi Januari-September 2025 mencapai Rp142,15 triliun, naik dari Rp116,54 triliun pada periode sama 2024. Sektor ini menyerap 6,7 juta tenaga kerja per Februari 2025.

Pemerintah menegaskan komitmen memperkuat struktur industri nasional sesuai RPJPN 2025-2045, termasuk menaikkan kontribusi industri pengolahan ke PDB hingga 21,9%. IKFT diarahkan menjadi motor transformasi melalui penguatan konsumsi domestik, percepatan ekspor, optimalisasi investasi, dan substitusi impor.

Taufiek menyebut sejumlah program prioritas tengah dipercepat, mulai dari restrukturisasi mesin, hilirisasi migas dan mineral, revitalisasi industri pupuk, percepatan ekspor, peningkatan investasi, penggunaan produk dalam negeri, hingga implementasi Industri 4.0.

Meski demikian, IKFT masih menghadapi tantangan seperti tingginya impor bahan baku kimia, ketergantungan API, banjir produk tekstil murah, serta potensi rerouting produk kaca. Pemerintah menilai tantangan ini harus dijawab dengan penguatan regulasi, peningkatan kualitas produk, harmonisasi standar, dan perluasan akses pasar.

Melalui kegiatan Outlook dan Kinerja IKFT 2026, pemerintah berharap koordinasi lintas sektor semakin solid. Kemenperin optimistis sektor IKFT akan semakin memperkuat perekonomian nasional dan meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global. [red]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI