DIALEKSIS.COM | London - Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, dilaporkan tengah mempertimbangkan untuk mengundurkan diri di tengah tekanan politik yang kian menguat di internal Partai Buruh Inggris. Isu ini mencuat setelah laporan jurnalis Dan Hodges dari media Daily Mail, Sabtu (17/5/2026).
Starmer yang naik ke kursi perdana menteri usai membawa Partai Buruh menang telak dalam pemilu 2024, kini menghadapi situasi yang berbalik arah. Kurang dari dua tahun masa kepemimpinannya, tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintahannya dilaporkan menurun, diiringi retaknya soliditas internal partai dan hasil buruk dalam sejumlah pemilu lokal terakhir.
Dalam laporannya, Hodges mengutip sumber dari kalangan menteri kabinet yang enggan disebutkan namanya. Sumber tersebut menyebut Starmer mulai menyadari situasi politik yang dihadapinya tidak lagi stabil.
“Dia memahami realitas politik. Kekacauan ini tidak bisa terus berlanjut. Dia hanya ingin pergi dengan cara yang bermartabat dan dalam waktu yang dia tentukan sendiri,” ujar sumber tersebut.
Meski demikian, belum ada kepastian kapan keputusan resmi akan diumumkan. Sejumlah sekutu politik Starmer disebut menyarankan agar ia menunda langkah tersebut hingga setelah pemilu sela di Makerfield. Kontestasi itu dinilai krusial, terutama dengan kemungkinan kembalinya mantan Wali Kota Manchester, Andy Burnham, ke Parlemen.
Nama Burnham bahkan mulai disebut-sebut sebagai kandidat kuat dalam bursa kepemimpinan Partai Buruh jika Starmer benar-benar mundur. Dinamika ini semakin mempertegas bahwa tekanan politik di tubuh partai penguasa Inggris sedang berada pada titik sensitif.
Situasi ini juga mencerminkan tantangan besar yang dihadapi pemerintahan Starmer dalam menjaga stabilitas politik pasca kemenangan besar 2024. Jika isu pengunduran diri ini terealisasi, maka Inggris berpotensi kembali memasuki fase transisi kepemimpinan dalam waktu relatif singkat.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari Downing Street terkait kabar tersebut. Namun, spekulasi yang berkembang menunjukkan bahwa panggung politik Inggris tengah bergerak cepat, dengan arah yang masih sulit dipastikan.