Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / 1.241 Pengunjung selama Maret, Museum Aceh Siapkan Transformasi Digital Canggih

1.241 Pengunjung selama Maret, Museum Aceh Siapkan Transformasi Digital Canggih

Rabu, 01 April 2026 14:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Museum Aceh mencatat total 1.241 kunjungan sepanjang Maret 2026. [Foto: dok. Museum Aceh]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh -Museum Aceh mencatat total 1.241 kunjungan sepanjang Maret 2026. Data tersebut berdasarkan laporan tiket masuk per 31 Maret 2026.

Dari total tersebut, pengunjung dewasa mendominasi dengan jumlah 832 orang atau sekitar 67 persen. Sementara itu, pengunjung anak-anak tercatat sebanyak 357 orang atau 28,7 persen, dan tamu asing sebanyak 52 orang atau 4,3 persen.

Selama periode puasa, kunjungan cenderung menurun. Museum Aceh juga tutup pada 20 hingga 24 Maret 2026 dalam rangka cuti bersama Lebaran, dan kembali dibuka untuk umum pada 25 Maret 2026. Setelah dibuka kembali, jumlah kunjungan mengalami peningkatan signifikan.

Berdasarkan data harian, lonjakan kunjungan terjadi pada pekan terakhir Maret. Kunjungan tertinggi tercatat pada 26 Maret 2026 dengan 269 orang, disusul 25 Maret sebanyak 260 orang, serta 28 Maret sebanyak 243 orang.

Rincian menunjukkan peningkatan signifikan pada kategori anak-anak dan dewasa. Pada 25 Maret, museum dikunjungi 79 anak-anak dan 177 dewasa. Angka tersebut meningkat pada 26 Maret menjadi 86 anak-anak dan 183 dewasa. Sementara pada 28 Maret, tercatat 17 tamu asing, 77 anak-anak, dan 149 dewasa.

Sebagai salah satu museum tertua di Indonesia yang berdiri sejak 31 Juli 1915, Museum Aceh memiliki peran penting dalam pelestarian warisan budaya Aceh sekaligus menjadi sarana edukasi dan rekreasi bagi masyarakat.

Sementara itu, Kepala Seksi Koleksi dan Bimbingan Edukasi Museum Aceh, Nurhasanah, mengatakan ke depan museum akan mengembangkan konsep digitalisasi berbasis pengalaman imersif. Program ini akan didorong melalui dukungan Kementerian Kebudayaan yang tengah mendorong transformasi museum menuju ruang edukasi modern berbasis teknologi.

Digitalisasi imersif tersebut mencakup pengembangan ruang multimedia, pemanfaatan video interaktif, serta penyajian koleksi berbasis teknologi yang memungkinkan pengunjung merasakan pengalaman lebih mendalam terhadap sejarah dan budaya Aceh.

Langkah ini diharapkan tidak hanya meningkatkan jumlah kunjungan, tetapi juga memperkuat posisi Museum Aceh sebagai destinasi edukasi yang adaptif di era digital. [*]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI