DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Aceh akhir November 2025 lalu berdampak serius terhadap kehidupan nelayan di Lhok Puuk, Kecamatan Seunuddon, Kabupaten Aceh Utara.
Selain kerusakan alat tangkap dan perahu, abrasi di kawasan Pantai Seuneudon turut memperparah kondisi ekonomi nelayan setempat.
Seorang nelayan Lhok Puuk, Muhammad Nasir, mengatakan banjir bandang yang terjadi beberapa waktu lalu menyebabkan banyak nelayan tidak bisa melaut. Perahu dan alat tangkap mereka rusak akibat dihantam arus banjir dan gelombang laut.
“Waktu banjir bandang, banyak nelayan tidak melaut karena boat dan alat tangkap rusak. Ditambah lagi abrasi di Pantai Seuneudon, itu membuat kerugian kami semakin besar,” ujar Nasir kepada media dialeksis.com, Selasa, 13 Januari 2026.
Menurutnya, meski saat ini sebagian nelayan sudah mulai kembali melaut, kondisi ekonomi mereka belum pulih sepenuhnya. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama tidak melaut, banyak nelayan terpaksa berutang kepada toke bangku.
“Kami terpaksa berutang ke toke bangku untuk biaya hidup keluarga. Ini terjadi hampir ke semua nelayan Lhok Puuk,” katanya.
Nasir menjelaskan, sistem utang nelayan kepada toke sudah berlangsung lama, terutama di kawasan Kecamatan Seuneudon. Ada nelayan yang melaut jauh dan ada pula yang melaut di sekitar perairan dekat, namun keduanya tetap bergantung pada modal dari toke.
“Kalau mau melaut jauh, butuh modal besar. Kadang pinjam sampai belasan juta rupiah. Kalau sudah terikat utang, hasil tangkapan harus dijual ke toke dengan harga yang sudah ditentukan,” jelasnya.
Ia menambahkan, kondisi tersebut membuat nelayan semakin terhimpit, terlebih di tengah kebutuhan sosial seperti biaya keluarga yang juga cukup besar.
Sementara itu, Panglima Laot Lhok Seunuddon, Teuku Bakhtiar, membenarkan bahwa banjir bandang dan abrasi sangat berdampak terhadap nelayan di wilayahnya.
“Dampak banjir dan abrasi sangat berpengaruh terhadap aktivitas nelayan. Banyak perahu rusak, alat tangkap hilang, dan garis pantai semakin terkikis,” ujar Bakhtiar.
Ia berharap pemerintah dapat hadir memberikan solusi nyata, baik melalui bantuan perbaikan alat tangkap, perlindungan kawasan pesisir dari abrasi, maupun kebijakan yang meringankan beban nelayan pascabencana.
“Nelayan butuh dukungan agar bisa bangkit kembali dan tidak terus terjerat utang,” pungkasnya.