Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Ar-Raniry di Persimpangan Lanjutkan Mesin yang Sedang Panas

Ar-Raniry di Persimpangan Lanjutkan Mesin yang Sedang Panas

Jum`at, 08 Mei 2026 13:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Ratnalia

Prof. Dr. Mujiburrahman, M.Ag. [Foto: Humas UINAR]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Proses pemilihan Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh periode 2026-2030 memasuki fase krusial. Empat bakal calon rektor yang telah lolos tahap pertimbangan kualitatif kini resmi masuk ke meja Kementerian Agama RI setelah berkas mereka diserahkan pada awal Mei 2026. Mereka adalah Prof. Muhammad Siddiq, Prof. Saifullah, Prof. Inayatillah, dan Prof. Dr. Mujiburrahman, M.Ag.

Di tengah dinamika itu, hasil penelusuran dan pengumpulan informasi yang dilakukan tim Dialeksis baik melalui sumber terbuka maupun sumber tertutup di lingkungan internal kampus UIN Ar-Raniry Banda Aceh menunjukkan adanya arus dukungan yang cukup kuat terhadap keberlanjutan kepemimpinan Prof. Dr. Mujiburrahman, M.Ag. untuk periode kedua.

Informasi yang dihimpun Dialeksis berasal dari berbagai lapisan civitas akademika, mulai dari unsur dosen, tenaga kependidikan, kalangan struktural kampus, hingga jejaring akademik internal yang mengikuti perkembangan institusi dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah sumber internal yang meminta identitasnya tidak disebutkan menilai, fase pertumbuhan UIN Ar-Raniry saat ini membutuhkan kesinambungan kepemimpinan agar agenda transformasi kampus tidak terputus di tengah jalan.

“Yang sedang berjalan sekarang bukan program satu-dua tahun. Ada peta jalan besar yang sudah mulai terlihat hasilnya. Karena itu banyak yang merasa kesinambungan lebih penting,” ujar salah satu sumber internal kampus kepada Dialeksis, Jumat (8/5/2026).

Penilaian itu tidak berdiri di ruang kosong. Dalam beberapa tahun terakhir, UIN Ar-Raniry mencatat sejumlah capaian yang dianggap menjadi tonggak penting transformasi institusi. Pada 2023, kampus ini berhasil meraih Akreditasi Unggul BAN-PT dan menjadi PTKIN pertama di Sumatera yang memperoleh predikat tersebut dengan standar sembilan kriteria baru.

Tak hanya itu, pada 2025 UIN Ar-Raniry juga menempati posisi tertinggi nasional di lingkungan PTKIN versi Scimago untuk bidang riset dan inovasi. Dalam pemeringkatan nasional perguruan tinggi, UIN Ar-Raniry berada di posisi ke-27 dari 74 perguruan tinggi terbaik di Indonesia.

Tim Dialeksis juga memperoleh informasi bahwa peningkatan kualitas akademik menjadi salah satu alasan utama menguatnya dukungan internal terhadap keberlanjutan kepemimpinan saat ini. Jumlah guru besar meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir, sementara jumlah jurnal bereputasi nasional dan internasional terus bertambah, termasuk jurnal terindeks Sinta 1 dan Scopus.

“Dulu atmosfer akademiknya tidak sekuat sekarang. Sekarang kultur riset mulai hidup, dosen didorong produktif, dan relasi antar unsur kampus lebih cair,” kata sumber lain di lingkungan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan - UIN Ar-Raniry.

Selain capaian akademik, faktor stabilitas organisasi juga disebut menjadi pertimbangan penting. Berdasarkan informasi yang dihimpun Dialeksis dari sejumlah sumber internal, kepemimpinan Mujiburrahman dinilai berhasil memperkuat kohesi sosial kampus setelah sebelumnya sempat diwarnai fragmentasi dan ketegangan internal.

Model kepemimpinan yang terbuka dan komunikatif disebut menjadi salah satu faktor yang membuat hubungan antar elemen kampus relatif lebih kondusif. Beberapa sumber menyebut gaya kepemimpinan yang produktif namun tidak kaku membuat ruang komunikasi di internal kampus lebih sehat dibanding periode-periode sebelumnya.

Di bidang pengembangan fisik kampus, sejumlah proyek strategis juga menjadi perhatian. Penyelesaian gedung baru Fakultas Psikologi, penataan lingkungan kampus yang lebih tertib dan asri, hingga program rekonstruksi kampus baru yang telah masuk dalam Blue Book Bappenas untuk skema pembiayaan luar negeri menjadi bagian dari agenda besar yang sedang berjalan.

“Kalau pergantian arah terlalu cepat, biasanya program besar ikut melambat. Apalagi sekarang kampus sedang masuk fase ekspansi,” ujar sumber Dialeksis lainnya dari Fakultas Adab dan Humaniora.

Minat publik terhadap UIN Ar-Raniry juga disebut meningkat tajam dalam dua tahun terakhir. Jumlah pendaftar mahasiswa baru terus naik, seiring menguatnya reputasi kampus di tingkat nasional. Kondisi itu membuat sebagian kalangan internal kampus menilai keberlanjutan kepemimpinan menjadi opsi paling rasional untuk menjaga momentum pertumbuhan institusi.

Meski demikian, proses pemilihan rektor masih berlangsung dan keputusan akhir tetap berada di tangan Menteri Agama sesuai mekanisme yang berlaku. Empat nama yang telah diserahkan memiliki peluang yang sama dalam tahapan selanjutnya.

Namun di lingkungan internal UIN Ar-Raniry, suara tentang pentingnya menjaga kesinambungan kepemimpinan tampaknya mulai terdengar semakin jelas. [ra]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI