Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / BBPOM Aceh Temukan Bakteri Penyebab Keracunan Ratusan Murid di Bireuen

BBPOM Aceh Temukan Bakteri Penyebab Keracunan Ratusan Murid di Bireuen

Kamis, 05 Maret 2026 20:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Paket Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang diduga menjadi penyebab ratusan murid Taman Kanak-Kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD) mengalami keracunan di Kabupaten Bireuen, Kamis, 27 Februari 2026. [Foto: Dokumen untuk dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Aceh menemukan adanya kontaminasi bakteri Staphylococcus aureus pada menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang diduga menjadi penyebab ratusan murid Taman Kanak-Kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD) mengalami keracunan di Kabupaten Bireuen.

Kepala BBPOM Aceh, Riyanto, mengatakan hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan bakteri tersebut ditemukan pada bahan makanan berupa telur dan ayam dalam paket MBG yang dibagikan kepada para siswa.

“Sudah keluar hasilnya, ditemukan kontaminasi bakteri S. aureus di telur dan ayam,” kata Riyanto kepada media dialeksis.com, Kamis (5/3/2026).

Menurutnya, kontaminasi bakteri itu diduga dipicu oleh beberapa faktor dalam proses penyiapan makanan. Salah satunya adalah penggunaan bahan baku telur yang cangkangnya sudah retak, sehingga berpotensi menjadi jalur masuk bakteri ke dalam makanan.

Selain itu, proses pemasakan ayam yang tidak matang secara sempurna juga dinilai dapat memicu berkembangnya bakteri. Kondisi tersebut semakin diperparah oleh jeda waktu yang cukup lama antara proses penyiapan makanan di dapur hingga pengiriman ke sekolah.

“Bisa jadi penggunaan bahan baku telur yang retak cangkang, serta proses masak ayam yang kurang matang sehingga jeda waktu lama dari penyiapan sampai dikirim ke sekolah membuat makanan tercemar bakteri,” ujarnya.

Menindaklanjuti temuan tersebut, BBPOM Aceh telah mengeluarkan surat peringatan kepada dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyiapkan menu MBG tersebut. Temuan itu juga telah dilaporkan kepada Dinas Kesehatan untuk penanganan lebih lanjut.

Riyanto menyebutkan, tidak menutup kemungkinan sertifikat laik higiene sanitasi (SLHS) yang sebelumnya telah diberikan kepada dapur penyedia MBG dapat dicabut jika terbukti tidak memenuhi standar keamanan pangan. Namun, kewenangan tersebut berada di tangan pemerintah daerah melalui dinas terkait.

“Hal ini akan dievaluasi oleh tim surveilans dari kesehatan lingkungan Dinas Kesehatan Bireuen,” jelasnya.

Sebelumnya, ratusan siswa TK dan SD di Kecamatan Simpang Mamplam dan Pandrah, Kabupaten Bireuen, dilaporkan mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi paket MBG yang dibagikan pada Kamis, 26 Februari 2026 lalu.

Sejumlah siswa mengalami keluhan seperti mual, muntah, dan sakit perut setelah menyantap makanan tersebut, sehingga harus mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan setempat.

Paket makanan MBG yang dibagikan kepada siswa diketahui diperuntukkan untuk konsumsi selama tiga hari. Dalam paket tersebut terdapat berbagai jenis makanan, di antaranya empat butir bakso kering dalam plastik bening, kerupuk tempe, dua butir telur, tiga butir kurma, satu buah jeruk, tiga potong roti, satu bungkus jeli, serta satu kotak susu UHT berperisa ukuran 250 gram. [nh]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI