Minggu, 17 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Bersihkan Lumpur di Rumah Korban Bencana, Mukhlis Utamakan Rumah Janda dan Warga Miskin

Bersihkan Lumpur di Rumah Korban Bencana, Mukhlis Utamakan Rumah Janda dan Warga Miskin

Rabu, 31 Desember 2025 21:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Murdeli

Bupati Bireuen H. Mukhlis, ST Ngopi Pagi dengan wartawan Bireuen, Rabu (31/12/2025). {Foto: Dialeksis/Murdeli]


DIALEKSIS | Bireuen - Bupati Bireuen H. Mukhlis, ST menyatakan akan mengutamakan rumah janda dan warga miskin dalam rencana Pemkab Bireuen pada kegiatan pembersihan lumpur di rumah korban bencana banjir bandang di wilayah Kabupaten Bireuen.

"Ke depan kita pikir yang rumah-rumah orang miskin dan janda-janda yang tidak punya dana untuk kita bersihkan," ungkap Mukhlis pada acara Ngopi Pagi dengan wartawan wilayah liputan Kabupaten Bireuen di Meuligoe Bireuen, Rabu (31/12/2025).

Mukhlis mengatakan pascabencana, ia pernah ke satu tempat di Peusangan Siblah Krueng. Melihat rumah warga korban bencana banjir. Ia melihat ada sebuah rumah hanya mampu dibersihkan satu kamar itupun tidak seluruh lantai kamar. Lalu pemilik rumah meletakkan papan untuk alas tidur.

"Itu warga miskin, saya sangat prihatin, karena mereka tidak ada uang dan tidak sanggup membersihkan. Karena tanahnya (lumpur-red) hampir dua meter di dalam rumah dan pekarangan. Di sejumlah tempat lain rata-rata juga seperti itu," ujar Mukhlis.

Seperti di Gampong Blang Pala, Teupin Reudeup, Kecamatan Peusangan Selatan. Gampong Lueng Daneun, Kubu, Kubu Raya, Pante Baro Gle Siblah, Pante Baro Kumbang, Buket Panyang di Kecamatan Peusangan Siblah Krueng. Sama halnya di beberapa kecamatan lain yang tergolong parah bencana.

Mukhlis mengatakan beberapa hari pascabencana, ia lebih fokus agar masyarakat jangan lapar. "Maka kita buka jalur yang menghubungkan antar desa. Alhamdulillah jalur bisa tembus dan bahkan dengan bantuan pusat yang memperbaiki jembatan putus yang menghubungkan antar kabupaten dan lintas nasional.

Berkat bantuan pemerintah pusat dan semua pihak. Sampai hari ini minimal tidak ada daerah di Kabupaten Bireuen yang terisolir dan semua sudah bisa dijangkau sampai ke pelosok.

"Kondisi saat bencana dan pascabencana sangat menyayat hati. Jika tanpa bantuan pemerintah pusat, sampai hari ini kita belum tentu untuk menyelesaikan. Karena itu kita sudah minta dan usulkan banyak hal kepada pusat untuk membantu menyelesaikan semuanya," katanya.

Mukhlis menuturkan kejadian banjir akhir November 2025 lalu sesuatu yang tidak bisa dibayangkan. Rumah penduduk sesuai data sementara baik rusak berat dan hilang 3.000 rumah. Kalau termasuk yang rusak ringan lebih banyak lagi. Artinya rumah yang rusak berat rumah masih ada tetapi tidak bisa ditempati lagi.

Kehilangan Pancaharian

Mukhlis menambahkan, yang sangat ditakutkan pasca bencana yaitu ada tujuh irigasi besar yang rusak mengakibatkan tidak bisa lagi mengairi sawah. Salah satunya irigasi Pantee Lhong yang dapat mengairi 6.000 hektar sawah di sejumlah kecamatan di Kabupaten Bireuen.

Dari total 15 ribu hektar sawah. Diperkirakan 7.000 hektar sawah porak poranda. Sisamya masih bisa digunakan tetapi sawah tadah hujan. Tentunya tidak maksimal. Ditakutkan ke depan akan muncul masalah kelaparan. Angka kemiskinan bertambah. Mata pencaharian hilang yang tentunya akan mempengaruhi penghasilan masyarakat.

Begitupun Mukhlis selalu optimis untuk menyelesaikan berbagai persoalan demi untuk masyarakat. Kini titik pengungsian korban banjir di Bireuen terus berkurang. Menurutnya masyarakat Bireuen sangat mandiri. Tidak mau lama- lama di pengungsian bagi yang rumahnya masih bisa ditempati.

Harapkan Dukungan Wartawan

Mukhlis mengatakan dengan beban pascabencana yang kian membentang dan menguras pikiran. Ia berharap kepada teman-teman wartawan kalau memberitakan kiramya berita yang membuat semangat. Jangan seakan-akan pemerintah tidak melalukan apa-apa.

"Bantu kami, beri semangat untuk kami pemerintah. Ini malah selalu dipojokkan. Tidak pernah ada apresiasi ketika kami melakukan sesuatu, atau berhasil melakukan sesuatu," ucap Mukhlis dengan nada kecewa.

Seharusnya, katanya, dengan kondisi seperti ini wartawan memberi semangat. "Mohon dukungan moral untuk pemerintah agar mampu menyelesaikan berbagai persoalan. Mari kita saling bantu untuk masyarakat bisa keluar dari keterpurukan ini," harapnya. [mur]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI