Senin, 22 Juni 2026
Beranda / Berita / Aceh / Di Bhayangkara Fest 2026, Anak-Anak Aceh Belajar Mengenal Polisi dari Dekat

Di Bhayangkara Fest 2026, Anak-Anak Aceh Belajar Mengenal Polisi dari Dekat

Minggu, 21 Juni 2026 17:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Petugas kepolisian memberikan penjelasan mengenai peralatan teknologi senjata kejut listrik dari anggota Satuan Polisi Polda Aceh saat Bhayangkara Fest 2026 di Polda Aceh, Banda Aceh, Aceh, Sabtu (20/6/2026). [Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Tangan kecil anak laki-laki itu tampak menggenggam erat lengan ibunya saat memasuki stan Sabhara dalam gelaran Bhayangkara Fest 2026 di Lapangan Merah Polda Aceh, Sabtu (20/6/2026). Matanya tak henti-henti memandangi berbagai perlengkapan kepolisian yang dipamerkan di depan mereka.

Di sampingnya, sang ibu, Rina, juga terlihat antusias. Bersama ketiga anaknya, ia menyusuri satu per satu sudut pameran yang menampilkan berbagai perlengkapan tugas kepolisian, mulai dari tongkat pengurai massa, handy talkie (HT), borgol, senter lalu lintas, hingga perlengkapan pengamanan yang biasa digunakan personel di lapangan. Bagi Rina, pengalaman itu merupakan sesuatu yang baru.

"Saya baru pertama kali melihat perlengkapan polisi seperti ini dari dekat. Biasanya hanya lihat di televisi atau saat ada polisi bertugas di jalan," katanya sambil tersenyum kepada media dialeksis.com.

Menurut Rina, kehadiran pameran tersebut memberikan pengalaman berbeda bagi dirinya dan anak-anak. Mereka tidak hanya datang untuk melihat hiburan, tetapi juga mendapatkan pemahaman tentang tugas-tugas kepolisian yang selama ini hanya diketahui secara sekilas.

"Anak-anak jadi banyak bertanya. Mereka penasaran fungsi alat-alat ini untuk apa. Jadi sekalian belajar juga. Saya jelaskan kalau polisi menggunakan alat-alat ini untuk menjaga keamanan masyarakat," ujarnya.

Ia mengaku selama ini anak-anak sering merasa takut ketika melihat polisi. Namun setelah berinteraksi langsung dengan para personel yang bertugas di stan pameran, pandangan tersebut perlahan berubah.

"Tadi anak saya awalnya malu-malu. Lama-lama berani bertanya. Polisi yang jaga juga ramah, menjelaskan satu per satu. Jadi anak-anak merasa dekat," kata Rina.

Baginya, kegiatan semacam ini penting karena mampu memperkenalkan sosok polisi dari sisi yang lebih humanis kepada masyarakat, terutama anak-anak.

"Kalau ada kegiatan seperti ini, masyarakat bisa melihat langsung bahwa polisi itu tidak hanya menindak pelanggaran atau menangkap pelaku kejahatan. Mereka juga dekat dengan masyarakat dan mau berbagi pengetahuan," tuturnya.

Di tengah ramainya pengunjung yang memadati kawasan festival, anak-anak tampak silih berganti mencoba perlengkapan yang dipamerkan dan berfoto bersama personel kepolisian. Suasana yang tercipta jauh dari kesan formal dan kaku.

Rina menilai pendekatan semacam itu menjadi cara efektif untuk membangun kedekatan antara Polri dan masyarakat.

"Menurut saya bagus sekali. Anak-anak jadi tidak takut lagi melihat polisi. Mereka bisa mengenal polisi sebagai sahabat dan pelindung masyarakat," katanya.

Bagi Rina, yang terpenting bukan hanya kemeriahan acara, melainkan pengalaman yang diperoleh anak-anaknya.

"Mereka pulang membawa cerita. Tadi bahkan bilang ingin jadi polisi karena bisa membantu banyak orang. Menurut saya itu hal yang positif," ujarnya.

Menjelang malam hari, Rina dan kedua anaknya meninggalkan stan Sabhara. Namun kesan yang mereka bawa tampaknya akan bertahan lebih lama dari sekadar kunjungan festival.

"Saya senang bisa datang ke sini. Anak-anak senang, kami juga dapat pengetahuan baru. Mudah-mudahan kegiatan seperti ini sering dibuat supaya masyarakat semakin dekat dengan polisi," pungkasnya.

Kehangatan interaksi itulah yang ingin dihadirkan dalam Bhayangkara Fest 2026. Ketua Panitia Bhayangkara Fest 2026, Kombes Pol. Shobarmen, S.I.K., M.H., mengatakan festival tersebut merupakan bagian dari upaya mempererat hubungan antara Polri dan masyarakat melalui kegiatan yang edukatif, kreatif, religius, dan menghibur.

"Indonesia yang maju membutuhkan kebersamaan dan kolaborasi dari seluruh elemen bangsa. Karena itu, Bhayangkara Fest hadir sebagai ruang kolaborasi yang mempertemukan berbagai potensi dalam satu semangat kebersamaan," ujar Shobarmen.

Menurutnya, peringatan Hari Bhayangkara tidak hanya dimaknai sebagai seremoni tahunan, tetapi juga menjadi momentum untuk menunjukkan kehadiran Polri yang semakin dekat dengan masyarakat.

"Melalui kegiatan ini kami ingin menunjukkan bahwa peringatan Hari Bhayangkara bukan sekadar seremoni. Ini adalah momentum untuk memperkuat hubungan yang harmonis antara Polri dan masyarakat. Kami ingin menunjukkan bahwa Polri hadir tidak hanya sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat, tetapi juga sebagai mitra yang tumbuh dan berkembang bersama masyarakat," katanya.

Festival yang berlangsung selama empat hari, mulai 19 hingga 22 Juni 2026, menghadirkan berbagai kegiatan mulai dari bazar UMKM, pameran dan eksibisi, pameran alutsista, Bhayangkara Run, pelayanan publik, hingga beragam perlombaan yang melibatkan masyarakat dari berbagai kalangan. [nh]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI
dishes