DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Duta Damai Aceh menyoroti semakin memudarnya nilai-nilai Pancasila di kalangan generasi muda yang dinilai dapat menjadi ancaman serius bagi ketahanan ideologi bangsa.
Kondisi tersebut dikhawatirkan membuat anak muda semakin rentan terpapar berbagai paham yang bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan, termasuk ideologi kekerasan, intoleransi, radikalisme, hingga terorisme.
Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Duta Damai Aceh, Firman Ilmi, menilai fenomena tersebut tidak boleh dianggap sepele. Menurutnya, berkurangnya pemahaman dan penghayatan terhadap nilai-nilai Pancasila dapat membuka ruang bagi masuknya berbagai ideologi yang bertentangan dengan karakter bangsa Indonesia.
Firman mengatakan, generasi muda saat ini hidup dalam era keterbukaan informasi yang sangat luas. Berbagai informasi, ide, dan pemikiran dari seluruh dunia dapat diakses dengan mudah melalui media sosial maupun platform digital lainnya. Namun di balik kemudahan tersebut, terdapat tantangan besar yang harus dihadapi.
“Kami sangat menyayangkan terjadinya pergeseran dan memudarnya nilai-nilai Pancasila di kalangan generasi muda. Kondisi ini membuat sebagian anak muda menjadi lebih rentan terpapar ideologi-ideologi yang menyimpang dari nilai-nilai kebangsaan,” kata Firman Ilmi kepada media dialeksis.com, Senin (1/6/2026).
Menurutnya, salah satu faktor utama yang mendorong kondisi tersebut adalah dampak globalisasi yang semakin masif.
Perkembangan media sosial telah menciptakan ruang tanpa batas yang memungkinkan berbagai paham dan ideologi masuk dengan cepat ke tengah masyarakat, termasuk kepada kelompok usia muda yang masih berada dalam fase pencarian jati diri.
Firman menjelaskan bahwa tidak semua informasi yang beredar di ruang digital membawa dampak positif.
Di antara arus informasi yang begitu deras, terdapat berbagai narasi yang mengandung intoleransi, ujaran kebencian, hingga propaganda ideologi kekerasan yang dapat memengaruhi cara pandang generasi muda terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Arus informasi yang terlalu terbuka menjadi salah satu penyebab hilangnya pamor Pancasila di kalangan generasi muda. Banyak anak muda yang lebih mengenal tren global dibandingkan memahami nilai-nilai kebangsaan yang menjadi fondasi negara ini,” ujarnya.
Ia menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama, baik pemerintah, dunia pendidikan, keluarga, maupun organisasi masyarakat. Sebab, ketika nilai-nilai Pancasila mulai terpinggirkan, maka ruang bagi berkembangnya paham-paham yang bertentangan dengan semangat persatuan akan semakin terbuka.
Firman mengingatkan bahwa generasi muda memiliki kerentanan tersendiri terhadap berbagai bentuk pengaruh ideologi yang berkembang di dunia maya.
Kurangnya literasi digital dan lemahnya pemahaman terhadap nilai-nilai kebangsaan dapat membuat sebagian anak muda mudah terpengaruh oleh narasi yang mengandung kekerasan, intoleransi, maupun paham ekstrem lainnya.
“Di satu sisi terdapat kerentanan di mana generasi muda mudah dipengaruhi oleh ideologi kekerasan, intoleransi, atau paham lain yang tidak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia. Ini harus menjadi perhatian serius karena dapat mengancam persatuan dan keharmonisan sosial,” katanya.
Menurut Firman, Hari Lahir Pancasila seharusnya tidak hanya diperingati sebagai agenda seremonial tahunan. Lebih dari itu, momentum tersebut harus dimanfaatkan sebagai ruang refleksi bersama untuk memperkuat kembali komitmen terhadap nilai-nilai kebangsaan yang diwariskan para pendiri bangsa.
Ia menegaskan bahwa Pancasila hingga saat ini tetap relevan sebagai ideologi pemersatu bangsa yang mampu menjembatani keberagaman suku, agama, budaya, dan latar belakang masyarakat Indonesia. Bahkan, di tengah meningkatnya polarisasi yang terjadi di berbagai negara, Pancasila menjadi benteng utama dalam menjaga persatuan nasional.
“Momen Hari Lahir Pancasila harus menjadi pengingat bahwa Pancasila adalah ideologi pemersatu bangsa dan benteng utama dalam menangkal berbagai bentuk polarisasi di masyarakat, termasuk lahirnya radikalisme dan terorisme,” tegasnya.
Firman menambahkan bahwa ancaman radikalisme dan terorisme tidak selalu muncul dalam bentuk tindakan kekerasan secara langsung. Saat ini, penyebaran paham tersebut lebih banyak dilakukan melalui media digital dengan memanfaatkan berbagai platform yang dekat dengan kehidupan generasi muda.
Karena itu, menurutnya, penguatan literasi digital harus berjalan seiring dengan penguatan nilai-nilai Pancasila agar generasi muda mampu memilah informasi yang benar serta memiliki daya tahan ideologis yang kuat terhadap berbagai pengaruh negatif.
Sebagai bagian dari komunitas yang fokus pada kampanye perdamaian dan kontra narasi terhadap ekstremisme, Duta Damai Aceh terus berupaya mengajak generasi muda untuk aktif menyebarkan pesan-pesan positif, toleransi, dan persatuan melalui berbagai kegiatan edukasi maupun media digital.
Firman mengatakan, Duta Damai Aceh selama ini juga terus mendorong penguatan pendidikan karakter sebagai langkah strategis dalam menanamkan kembali nilai-nilai Pancasila kepada generasi muda.
Menurutnya, pendidikan karakter menjadi instrumen penting untuk membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran kebangsaan yang kuat.
“Duta Damai terus mendorong secara aktif sosialisasi penguatan pendidikan karakter agar nilai-nilai Pancasila kembali menjadi benteng pertahanan utama bagi generasi muda dalam menghadapi berbagai tantangan zaman,” ujarnya.
Ia berharap peringatan Hari Lahir Pancasila tahun ini dapat menjadi momentum bagi seluruh pihak untuk kembali memperkuat pendidikan kebangsaan dan menanamkan nilai-nilai toleransi, gotong royong, serta cinta tanah air kepada generasi muda.
“Jika Pancasila benar-benar hidup dalam diri generasi muda, maka Indonesia akan memiliki pertahanan sosial yang kuat untuk menghadapi berbagai ancaman ideologi yang dapat merusak persatuan bangsa. Pancasila harus tetap menjadi kompas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” pungkas Firman. [nh]