Kamis, 09 Juli 2026
Beranda / Berita / Aceh / Hari Bebas Sampah Plastik, Sahabat Hijau: Pengelolaan Sampah Harus Dimulai dari Rumah

Hari Bebas Sampah Plastik, Sahabat Hijau: Pengelolaan Sampah Harus Dimulai dari Rumah

Kamis, 09 Juli 2026 14:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Komunitas Sahabat Hijau menggelar sosialisasi Waste Collecting Point (WCP) di Gedung PKK Gampong Kopelma Darussalam, Banda Aceh, Rabu (8/7/2026). Foto: Naufal Habibi /dialeksis.com


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Dalam rangka memperingati Hari Bebas Sampah Plastik Sedunia, Komunitas Sahabat Hijau menggelar sosialisasi Waste Collecting Point (WCP) di Gedung PKK Gampong Kopelma Darussalam, Banda Aceh, Rabu (8/7/2026). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memilah dan mengelola sampah sejak dari sumbernya.

Ketua Komunitas Sahabat Hijau, Muhamad Fathan Mubina, mengatakan persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan pemerintah. Menurutnya, masyarakat memiliki peran penting dalam mengurangi timbulan sampah melalui kebiasaan memilah sampah dari rumah.

"Hari Bebas Sampah Plastik Sedunia menjadi momentum untuk mengajak masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan. Kami ingin mendorong warga agar mulai memilah sampah sejak dari rumah, sehingga sampah yang dibuang ke tempat pemrosesan akhir dapat berkurang," ujarnya kepada media dialeksis.com.

Ia menjelaskan, melalui program Waste Collecting Point, masyarakat didorong mengelola sampah secara mandiri dalam skala gampong. Selain menjaga kebersihan lingkungan, program tersebut juga diharapkan mampu memberikan nilai ekonomi bagi warga melalui pemanfaatan sampah yang masih memiliki nilai jual.

Sementara itu, pemateri dari Sahabat Hijau, Satar, menjelaskan bahwa Waste Collecting Point merupakan sistem pengelolaan sampah yang terpusat pada satu titik dan dikelola langsung oleh masyarakat. Dalam satu fasilitas WCP, pengelolaan sampah melibatkan sekitar 20 hingga 30 rumah tangga.

"WCP bukan hanya tempat mengumpulkan sampah, tetapi juga membangun kebiasaan masyarakat untuk memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah. Jika dilakukan secara konsisten, volume sampah yang dibuang ke tempat pemrosesan akhir akan berkurang secara signifikan," kata Satar.

Ia menambahkan, pengelolaan sampah yang baik harus dimulai dari hulu melalui pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, penerapan gaya hidup minim sampah (less waste lifestyle), hingga pemanfaatan kembali sampah melalui komposting, bank sampah, budidaya maggot, pembuatan eco enzyme, dan berbagai bentuk daur ulang lainnya.

Dalam kegiatan tersebut, peserta juga mendapatkan materi mengenai kebijakan pengelolaan sampah di Kota Banda Aceh. Berdasarkan paparan Dinas Lingkungan Hidup, rata-rata timbulan sampah di Banda Aceh mencapai sekitar 259,94 ton per hari, yang berasal dari rumah tangga, perkantoran, pasar, pusat perdagangan, dan fasilitas umum. 

Kondisi tersebut membuat kapasitas Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Kota Banda Aceh semakin terbatas sehingga sebagian sampah harus diangkut ke TPA Regional Blang Bintang.

Satar menilai tingginya volume sampah tidak hanya disebabkan oleh pertumbuhan jumlah penduduk, tetapi juga meningkatnya penggunaan plastik sekali pakai dan masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah.

"Kalau masyarakat mulai memilah sampah dari rumah, maka beban TPA bisa berkurang. Ini menjadi langkah sederhana, tetapi dampaknya sangat besar bagi keberlanjutan lingkungan," tutupnya

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI