Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Jembatan Kutablang Bireuen Macet Parah Hingga 5 Kilometer, Ini Penyebabnya

Jembatan Kutablang Bireuen Macet Parah Hingga 5 Kilometer, Ini Penyebabnya

Senin, 23 Maret 2026 15:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Antrean kendaraan dilaporkan mengular hingga sekitar lima kilometer di kawasan Jembatan Kutablang, Kabupaten Bireuen, Senin (23/3/2026). [Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Arus mudik dan silaturahmi Lebaran 1447 Hijriah memicu kemacetan panjang di jalur utama penghubung Banda Aceh - Medan. Antrean kendaraan dilaporkan mengular hingga sekitar lima kilometer di kawasan Jembatan Kutablang, Kabupaten Bireuen, Senin (23/3/2026).

Kemacetan terjadi karena tingginya volume kendaraan yang melintas di jembatan darurat Bailey yang saat ini menjadi satu-satunya akses utama di kawasan tersebut.

Pantauan di lapangan menunjukkan ratusan kendaraan dari berbagai jenis terjebak dalam antrean panjang untuk dapat melintasi jembatan.

Kendaraan tampak berhenti total hingga mendekati badan jembatan. Antrean ke tembus hingga Simpang Glee Kapai, Matang Geulempang Dua, Bireuen.

Situasi kemacetan bahkan sempat diperparah oleh aksi tidak terpuji sejumlah pengendara yang menyerobot antrean.

Dalam pantauan media dialeksis.com di Lapangan. terlihat tiga unit mobil jenis Pajero Sport, Fortuner, dan Innova nekat melawan arus dan mengambil jalur berlawanan untuk memotong antrean kendaraan yang sudah mengular panjang.

Aksi tersebut memicu reaksi dari pengendara lain karena dianggap tidak menghargai antrean dan memperburuk kemacetan yang sudah terjadi.

Belum diketahui motif para pengendara mobil tersebut melakukan aksi tersebut. Namun perilaku arogan di tengah kondisi lalu lintas yang padat dinilai memperkeruh situasi dan memperlambat pergerakan kendaraan lainnya.

Kemacetan di kawasan tersebut semakin terasa karena tingginya mobilitas masyarakat pada hari-hari pasca Idulfitri.

Suci Farhan, seorang sopir pribadi yang ditemui di lokasi, mengaku telah menunggu lebih dari satu jam untuk bisa melintasi jembatan darurat tersebut. Ia tengah melakukan perjalanan dari Medan menuju Bireuen untuk mengunjungi keluarganya.

“Sudah satu jam lebih saya menunggu di sini. Saya dari Medan mau ke rumah saudara di Bireuen. Barang yang saya bawa juga kebutuhan pokok, tapi mau bagaimana lagi, semua harus ikut antre,” ujar Suci Farhan kepada Dialeksis.com.

Menurutnya, kemacetan semakin terasa ketika volume kendaraan meningkat, terutama pada jam-jam ramai saat masyarakat melakukan perjalanan silaturahmi setelah Lebaran.

“Kalau jam ramai begini kendaraan hampir tidak bergerak. Sistem buka-tutup memang perlu, tapi antreannya jadi sangat panjang,” katanya.

Selain kendaraan pribadi, antrean juga dipenuhi berbagai jenis kendaraan lain seperti truk logistik, minibus penumpang jenis Hiace, bus lintas provinsi, hingga kendaraan keluarga yang melakukan perjalanan mudik.

Sementara itu, Sudirman, seorang sopir truk yang juga terjebak kemacetan, mengatakan antrean panjang di kawasan jembatan tersebut sudah sering terjadi sejak jembatan lama putus akibat banjir besar tahun lalu.

Menurutnya, pengendara tidak memiliki banyak pilihan karena jalur tersebut merupakan akses utama yang menghubungkan Banda Aceh dengan Medan.

“Kalau musim liburan seperti ini memang padat sekali. Semua kendaraan harus antre untuk lewat jembatan darurat,” ujarnya.

Seperti diketahui, jembatan rangka baja yang sebelumnya menjadi jalur utama di kawasan Kutablang ambruk akibat banjir bandang yang melanda Aceh pada 26 November 2025.

Sejak saat itu, pemerintah membangun jembatan Bailey sebagai jalur darurat agar konektivitas Banda Aceh“Medan tetap dapat dilalui kendaraan.

Namun kapasitas jembatan darurat tersebut terbatas sehingga arus kendaraan harus diatur dengan sistem buka-tutup, terutama ketika volume kendaraan meningkat pada masa libur panjang.

Untuk mengurangi kepadatan, Satuan Lalu Lintas Polres Bireuen telah memberlakukan rekayasa lalu lintas dengan memanfaatkan jalur alternatif sejak Jumat, 13 Maret 2026.

Dalam skema tersebut, kendaraan roda empat seperti mobil pribadi dan minibus dari arah Banda Aceh menuju Medan diarahkan melintas melalui Jembatan Kutablang dengan sistem satu arah (one way).

Sedangkan kendaraan dari arah Medan menuju Banda Aceh dialihkan melalui Jembatan Awe Geutah dengan batas maksimal tonase kendaraan 10 ton.

Kebijakan ini diterapkan untuk mengurangi antrean panjang di jembatan darurat sekaligus menjaga keselamatan pengguna jalan yang melintas di kawasan tersebut.

Selain itu, kendaraan dengan tonase lebih besar seperti truk dengan kapasitas hingga 30 ton, kendaraan sumbu tiga, ambulans, mobil pemadam kebakaran, kendaraan pengangkut bahan bakar minyak (BBM), serta kendaraan logistik sembako masih diperbolehkan melintas melalui jalur Kutablang. [nh]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI