DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Ulama muda Aceh, Ustaz Masrul Aidi, menilai kesadaran masyarakat dalam menutup aurat menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir.
Fenomena ini, menurutnya, menjadi bagian dari gejala yang lebih luas terkait memudarnya penghayatan terhadap nilai-nilai keislaman di tengah kehidupan sosial.
Dalam refleksinya di cuitan media sosialnya, Ustaz Masrul Aidi mengawali dengan mengingatkan tiga nikmat utama yang kerap diucapkan dalam berbagai forum, yakni nikmat iman, nikmat Islam, dan nikmat sehat.
Namun, ia mempertanyakan sejauh mana ketiga nikmat tersebut masih benar-benar dirasakan dalam praktik kehidupan sehari-hari.
“Segala puji bagi Allah atas nikmat iman, nikmat Islam, dan nikmat sehat… kalimat ini hampir selalu menjadi pembuka. Tapi pertanyaannya, apakah kita masih benar-benar merasakan nikmat itu?” ujarnya yang dilansir media dialeksis.com, Jumat (3/4/2026).
Ia menekankan, salah satu indikator yang paling mudah dilihat adalah perubahan dalam cara berpakaian masyarakat, khususnya terkait aurat. Menurutnya, kondisi saat ini jauh berbeda dibandingkan masa lalu.
“Dulu, sangat sulit menemukan perempuan Aceh yang membuka aurat. Sekarang, justru semakin mudah ditemui di ruang-ruang publik,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menilai bahwa meskipun sebagian masyarakat masih mengenakan busana penutup aurat, esensi dari ajaran tersebut sering kali tidak lagi menjadi perhatian utama.
“Kalaupun masih ramai yang menutup aurat, sering kali yang tertutup hanya secara formalitas. Sementara bentuk dan lekuk tubuh justru semakin terlihat. Ini yang menjadi keprihatinan,” katanya.
Fenomena ini, lanjutnya, tidak hanya terjadi pada perempuan, tetapi juga pada laki-laki. Ia menyoroti perubahan gaya berpakaian pria yang dinilai semakin menjauh dari nilai-nilai syariat.
“Dulu, pria Aceh jarang terlihat mengenakan celana pendek di ruang publik. Sekarang, itu menjadi hal biasa dan seolah tidak lagi dianggap persoalan,” ujarnya.
Ustaz Masrul Aidi menilai, kondisi tersebut mencerminkan adanya pergeseran pemahaman dan kesadaran beragama di tengah masyarakat, meskipun Aceh telah lebih dari dua dekade menerapkan syariat Islam.
“Sudah lebih dari 20 tahun syariat diterapkan. Tapi apakah kehidupan kita semakin islami? Ini yang perlu kita renungkan bersama,” katanya.
Ia juga mengkritisi sikap sebagian elite yang dinilai hanya menjadikan isu syariat sebagai komoditas politik, terutama saat momentum pemilu.
“Jargon syariat sering muncul saat kampanye, tapi setelah itu seolah hilang arah. Ini membuat masyarakat bingung dan kehilangan teladan,” ujarnya.
Tak hanya itu, ia turut menyinggung peran lembaga-lembaga keistimewaan Aceh yang dinilai belum maksimal dalam menjalankan fungsi pembinaan moral di tengah masyarakat.
“Ketika banyak pihak memilih diam terhadap fenomena ini, tentu kita patut bertanya. Jangan sampai kita justru terlena dan tidak menyadari perubahan yang sedang terjadi,” katanya.
Ustaz Masrul Aidi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk kembali meningkatkan kesadaran dalam menjaga aurat sebagai bagian dari identitas dan nilai dasar kehidupan masyarakat Aceh.
“Ini bukan sekadar kritik, tapi ajakan untuk introspeksi. Menutup aurat bukan hanya soal penampilan, tapi bagian dari ketaatan yang harus dijaga bersama,” pungkasnya. [nh]