DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Azanuddin Kurnia berhasil mempertahankan Disertasi pada Sidang Terbuka Promosi Doktor pada Sekolah Pascasarjana Program Studi Doktor Ilmu Pertanian Universitas Syiah Kuala di Gedung Pascasarjana USK pada tanggal 14 Januari 2026.
Dihadapan penguji yang terdiri dari Prof. Dr. Ir. Agussabti, M.Si. IPU ASEAN Eng sebagai Ketua Sidang yang juga Wakil Rektor I USK, Dr. Mhd. Ikhsan Sulaiman, S.TP., M.Sc., IPU, ASEAN. Eng selaku Sekretaris Sidang, Prof. Dr. Ir. Ahmad Humam Hamid, MA selaku Promotor/Penguji, Prof. Dr. Ir. Ashabul Anhar, M.Sc selaku Ko Promotor I/Penguji, Dr. Agus Nugroho, SP, M.Com selaku Ko Promotor II/Penguji, Prof. Dr. Jasman J, SE, MBA selaku Penguji Bidang Konsentrasi, Dr. Ir. Fajri, M.Sc selaku Penguji Bidang Konsentrasi dan Dr. Prayudi Syamsuri, SP, M.Si Staf Ahli Menteri Kemenko Pangan selaku Penguji Bidang Konsentrasi dari luar Institusi.
Azan, sapaan akrabnya, yang juga sebagai Ketua Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia (PISPI) Aceh mempertahankan Disertasi dengan Judul “Tata Kelola Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Dalam Peningkatan Daya Saing Komoditas di Provinsi Aceh”.
Dalam presentasi dihadapan para penguji, Azan mampu dengan meyakinkan mempertahankan hasil penelitian yang dilakukan di Kabupaten Aceh Tamiang dalam mengambil sampel pada kelompok petani ISPO, PSR, dan swadaya. Tujuan penelitian ini menganalisis tingkat kesiapan penerapan sertifikasi ISPO pada perkebunan kelapa sawit rakyat. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kesiapan penerapan ISPO pada perkebunan kelapa sawit rakyat dan terakhir Merumuskan strategi percepatan implementasi ISPO bagi perkebunan rakyat di Aceh.
Penelitian I
Hasil penelitian I dengan menggunakan “gap analisis dan diagram radar” diantaranya menunjukkan ada Lima prinsip yang digunakan untuk mengukur tingkat kesiapan penerapan ISPO, yaitu kepatuhan terhadap peraturan dan perundangan (X1), praktik perkebunan yang baik (X2), pengelolaan lingkungan hidup, sumber daya alam, dan keanekaragaman hayati (X3), penerapan transparansi (X4), serta peningkatan usaha secara berkelanjutan (X5).
Petani yang telah bersertifikat ISPO cenderung memiliki tingkat kesiapan yang lebih tinggi dibandingkan dengan petani PSR dan petani swadaya pada semua variabel yang diukur.
Rekomendasi yang ditawarkan pada penelitian I ini yakni untuk percepatan ISPO di Aceh bahkan Indonesia dengan mengintegrasikan pengusulan PSR sekaligus memenuhi sebagian besar persyaratan dalam ISPO, seperti STDB, SPPL, dan pembentukan ICS (Internal control system) pada kelompok tani. Kemudian Pemerintah sudah selayaknya memberikan insentif kepada para kelompok yang sudah mendapatkan sertifikasi ISPO, baik insentif finansial maupun insentif non finansial. Ketiga perlu diberi kewenangan kepada dinas yang membidangi perkebunan baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota terhadap intervensi dalam pengurusan ISPO.
Hal ini perlu dilakukan agar dinas di level provinsi dan kabupaten/kota dapat mendorong dan melakukan percepatan ISPO. Sampai saat ini, aturan yang ada belum mengakomodir terhadap kewenangan kabupaten/kota dan provinsi dalam pengurusan ISPO.
Penelitian II
Pada Penelitian II menggunakan “analisis deskriptif dan SEM PLS” menghasilkan diantaranya Penerapan ISPO merupakan tindakan kolektif, dimana kesiapan petani dalam praktek ISPO cenderung bergantung pada sistem sosial mereka di komunitas, lembaga dimana mereka berada, persepsi, budaya masyarakat yang berkembang dan informasi yang mereka peroleh dari sistem sosial tersebut.
Variabel yang berpengaruh terhadap kesiapan penerapan ISPO secara langsung dan signifikan adalah persepsi petani terhadap ISPO, dukungan kelembagaan dan akses terhadap teknologi informasi. Sedangkan karakteristik petani tidak berpengaruh dan variabel budaya masyarakat berpengaruh tidak langsung terhadap kesiapan petani melalui variabel persepsi terhadap ISPO.
Rekomendasi yang ditawarkan pada Penelitian II ini diantaranya akses informasi perlu diperkuat bagi petani sehingga mereka dapat dengan mudah menerima dan memahami informasi teknologi dan mempercepat perubahan. Diperlukan pendekatan intens terhadap kepemimpinan informal yang dapat meyakinkan petani mengenai keselarasan penerapan ISPO dengan budaya setempat. Perlunya dukungan dari pemerintah, Perguruan Tinggi, dunia usaha, dan lembaga mitra pembangunan untuk memfasilitasi percepatan terwujudnya sertifikasi ISPO dengan cara membangun kolaborasi para pihak.
Penelitian III
Penelitian III atau yang terakhir menghasilkan melalui “analisis SWOT” terhadap percepatan penerapan ISPO menunjukkan potensi sinergi yang kuat. Matriks koordinat strategis mengungkapkan bahwa kombinasi kekuatan internal seperti kelembagaan petani yang mapan dan kepemilikan lahan yang jelas dengan peluang eksternal, termasuk dukungan kebijakan pemerintah dan permintaan pasar yang berkelanjutan, dapat menciptakan model pembangunan ganda (double dividend).
Pendekatan ini tidak hanya mempercepat sertifikasi ISPO tetapi juga meningkatkan efektivitas sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi, sosial dan ekologi masyarakat lokal. Yang kedua Perkebunan rakyat di Aceh menghadapi tantangan kompleks dalam memenuhi standar ISPO, terutama terkait pemahaman regulasi yang terbatas dan kapasitas teknis yang belum memadai. Namun, Aceh memiliki modal sosial yang kuat melalui kelembagaan lokal dan dukungan pemerintah daerah yang dapat menjadi pondasi strategi ini.
Rekomendasi yang ditawarkan pada penelitian III ini yaitu dengan menggunakan kekuatan yang ada untuk menutupi kelemahan dan manfaatkan peluang untuk mengatasi berbagai hambatan/tantangan yang dihadapi sehingga proses percepatan ISPO bisa lebih cepat terwujud.
Kemudian rekomendasi umum yang ditawarkan dari semua penelitian yakni Pertama, Perlu penelitian lebih lanjut mengenai pola integrasi persyaratan PSR dengan ISPO dalam pengusulan program/kegiatan. Kedua, Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terkait dengan mekanisme insentif bagi kelembagaan petani yang sudah mendapatkan sertifikasi ISPO sebagai perangsang dan bisa memotivasi petani sawit lainnya.
Selanjutnya rekomendasi Ketiga, Perlu penelitian lanjutan dengan menggunakan geospasial dan terakhir, Keempat, Perlu dilakukan penelitian yang sama dengan kondisi daerah pasca bencana banjir dan longsor seperti yang telah terjadi di Aceh Tamiang pada 26 November 2025 yang lalu.
Pada saat penutupan sidang oleh Prof. Agussabti menyatakan bahwa Azanuddin Kurnia lulus dengan hasil sangat memuaskan dengan IPK 3,98 dan sudah sah menggunakan gelar Doktor di depan nama dan mengingatkan kepada Azan bahwa tantangan ke depan semakin komplek.
"Kami berharap Doktor baru bisa memberikan dampak nyata kepada masyarakat, nusa dan bangsa serta menjaga nama baik almamater dalam kehidupan sehari-hari," ucap Prof Agus seraya mengingatkan, ini bukan akhir tapi awal dari perjalanan panjang ke depan untuk lebih berkontribusi lebih besar.
Pandangan Rekan Sejawat dan Sahabat
Sekretaris PISPI Aceh yang juga Kabid P3UP Distanbun Aceh Habiburrahman, STP, M.Sc yang mengikuti sidang secara langsung menyatakan bahwa dirinya sangat senang dan bangga karena Ketua PISPI sudah meraih gelar tertinggi akademik.
"Sebagai pemimpin di organisasi profesi, ini menjadi harapan baru bagi organisasi dan juga masyarakat. Kami berharap ketua PISPI Aceh bisa memberikan dampak nyata dari ilmu yang sudah didapat. Setahu kami, Ketua PISPI memang suka menuntut ilmu, itu terlihat dari perjalanan panjang beliau mengenyam pendidikan sehingga bisa mendapatkan banyak gelar. Gelar bukanlah yang utama tetapi menuntut ilmu yang utama, itu yang kami tahu dari beliau," ujar Habib.
Pada kesempatan yang sama, Ir. T. Masrizar, S.Hut, M.Si Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Aceh Selatan yang berada di lokasi, tetapi mengikuti persidangan melalui siaran langsung via kanal Youtube USK menyampaikan perasaan bangganya.
"Kami berteman dan bersahabat sudah lebih dari 30 tahun yang lalu. Azan merupakan kawan diskusi bahkan berdebat terhadap berbagai topik," tuturnya.
Masrizar paham benar bahwa sahabatnya itu sangat getol untuk belajar dan punya bakat menulis, baik menulis buku maupun artikel diberbagai media cetak maupun media elektronik. Bahkan, sebagian tulisan sudah dibukukan.
"Beliau sering menginspirasi kami dan kawan-kawan lain. Sebagai sahabat, tentu kami senang atas pencapaian beliau dan saya hadir dari Aceh Selatan hari ini menunjukkan dukungan saya kepada beliau bersama kawan-kawan lain yang hadir disini," ujarnya seraya mengungkapkan kawan-kawan dari Aceh Tenggara dan Langsa juga hadir mengikuti Sidang Promosi Doktor tersebut.
Ketika dimintai keterangan kepada Azanuddin Kurnia yang juga sebagai Kabid PSP pada Distanbun Aceh, ia menyatakan dengan singkat bahwa ini adalah rahmat Allah SWT yang diberikan kepada dirinya dan keluarga besar, serta hasil didikan kedua orang tua sejak kecil.
"Semoga ilmu yang saya dapat bisa bermanfaat untuk orang banyak dan juga bisa menjadi salah satu akselerasi bagi percepatan pembangunan perkebunan secara berkelanjutan yang bisa mendorong meminimalkan bencana dari berbagai kebijakan yang dilahirkan, salah satunya dengan percepatan ISPO di Aceh, ujarnya.
Selesai sidang, terlihat Azan memberikan buku berjudul “Harapan Baru Pertanian Indonesia” kepada para penguji dan tamu undangan. Buku tersebut merupakan kumpulan tulisan dari para Pengurus PISPI Aceh.
Dalam catatan dialeksis.com, Azanuddin Kurnia diketahui Tamat SD Negeri 7 Takengon tahun 1986, tamat SMPN Tanah Merah Kutacane tahun 1989, tamat SMAN 2 Langsa tahun 1992, tamat S1 jurusan SEP USK tahun 1998, tamat S2 Prodi KSDL 2006, tamat profesi Insinyur dari Fakutas Teknis USK tahun 2023, memperoleh Insinyur profesional dari PII Pusat dengan predikat IPU tahun 2024 dan memperoleh ASEAN Eng dari Philipina tahun 2025 serta lulus program Doktor dari USK awal tahun 2026.
Perjalanan ini memperlihatkan bahwa Azanuddin Kurnia memang menyukai dunia pendidikan untuk terus menimba ilmu dimanapun berada. Selamat atas pencapaian ini, semoga dimudahkan ke depannya dalam memberi warna di Aceh maupun Indonesia. [*]