DIALEKSIS.COM | Aceh - Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, atau yang akrab disapa Mualem, tampak keluar dari kamar pribadinya dengan setelan serba hitam dan kupiah putih khas Aceh. Meski wajahnya lelah, senyum ramah tetap mengembang saat ia memegang segepok uang meugang santunan jelang Idul Fitri untuk fakir miskin.
“Yak tamulai aju (Ayo kita mulai segera),” ujarnya memimpin tim menuju gerbang Meuligoe, di mana seribuan warga telah menanti.
Di bawah terik matahari, barisan panjang tua-muda, pria - wanita, hingga anak-anak tertata rapi. Beberapa petugas polisi, Satpol PP, dan satpam membantu mengatur kerumunan. Dengan sabar, Mualem menyalami satu per satu penerima santunan, menyerahkan uang secara langsung.
“Teurimong Geunaseh Pak Gubernur,” ucap seorang ibu sambil tersenyum. Tradisi ini, menurut Mualem, telah ia jalani sejak masa jabatannya sebagai Wakil Gubernur (2012 - 2017). “Tidak semua orang punya kelapangan rezeki untuk membeli daging meugang. Alhamdulillah, hari ini kita bisa berbagi,” katanya usai acara.
Di tengah gelombang apresiasi, beredar kabar simpang-siur soal anggaran santunan meugang untuk anak yatim yang diklaim berasal dari Pemerintah Aceh. Plt. Sekretaris Jenderal Partai Aceh, Zulfadhli, menepis isu tersebut.
“Tidak ada dana khusus meugang yang dianggarkan pemerintah. Santunan kemarin murni inisiatif pribadi Gubernur,” tegasnya pada Senin (31/3/2025).
Zulfadhli, yang juga Ketua DPR Aceh, menegaskan seluruh proses anggaran daerah telah melalui mekanisme resmi. Ia mengingatkan kader Partai Aceh agar tidak terprovokasi hoaks, termasuk rumor soal Ketua KPA Pase, Jhony, yang disebut mengelola dana miliaran untuk santunan. “Itu informasi keliru dan tidak benar,” tegasnya.
Isu meugang kian memanas ketika Jaringan Aneuk Syuhada Aceh (JASA) melayangkan protes. Organisasi ini mengecam video TikTok akun “Bospon1” yang menuding Pembina JASA, M. Jhony, menyelewengkan dana santunan. “Ini fitnah yang merusak reputasi kami,” ujar Juru Bicara JASA, Datul Abrar, dalam keterangan pers (1/4/2025).
Abrar menilai video itu sebagai serangan politik yang berbahaya. “Jika dibiarkan, fitnah seperti ini akan jadi preseden buruk bagi demokrasi Aceh,” katanya. JASA meminta Ketua DPR Aceh, Zulfadhli, dan pemilik akun “Bospon1” segera klarifikasi. “Jika tidak, kami akan tembus jalur hukum,” tegas Abrar.
Di tengah situasi ini, JASA mengimbau masyarakat Aceh lebih selektif menerima informasi. “Mari bersama lawan hoaks. Jangan mudah percaya konten tanpa sumber jelas,” seru Abrar. Pesan serupa disampaikan Zulfadhli: solidaritas dan kehati-hatian menjadi kunci menjaga harmoni jelang Idul Fitri.
Sementara itu, langkah Mualem berbagi santunan tetap menjadi cahaya di tengah riuh hoaks”sebuah refleksi kepemimpinan yang tak lekang oleh waktu. Seperti kata pepatah Aceh: “Beudoh that bak uroe, beudoh that bak watee” (kebaikan tak kenal waktu).