Jum`at, 04 April 2025
Beranda / Berita / Aceh / Muhammadiyah Gelar Shalat Idul Fitri di Kampus, Serukan Kembali ke Fitrah Kemanusiaan

Muhammadiyah Gelar Shalat Idul Fitri di Kampus, Serukan Kembali ke Fitrah Kemanusiaan

Senin, 31 Maret 2025 13:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Foto: 



Ust. Prof. Dr. Nurcholis Sofyan, MA saat memberikan khutbah di halaman parkir Kampus Muhammadiyah. Foto: Dialeksis.com


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Ratusan warga dan simpatisan Muhammadiyah memadati halaman parkir Kampus Muhammadiyah untuk melaksanakan Salat Idul Fitri 1 Syawal 1446 H. Dipimpin oleh Ust. Ferdiansyah, S.H., dengan khatib Ust. Prof. Dr. Nurcholis Sofyan, M.A., ibadah tersebut mengusung pesan tentang pemurnian jiwa dan kepekaan sosial sebagai esensi Idul Fitri.

Dalam khutbahnya, Nurcholis Sofyan mengutip hadis Imam Bukhari: “Setiap bayi lahir dalam keadaan suci. Orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

Menurutnya, Idul Fitri adalah momen “kelahiran kembali” setelah sebulan menjalani “pelatihan rohani” melalui puasa dan salat. “Kesucian fitrah harus tercermin dalam kebersihan hati dari kesombongan, iri, dan dengki. Inilah capaian tertinggi Ramadan,” tegas guru besar studi Islam tersebut.

Ia menekankan, fitrah tidak hanya berkaitan dengan kesalehan individual, tetapi juga respons terhadap penderitaan sesama. “Bencana kemanusiaan di Palestina dan konflik global menguji esensi fitrah kita. Membantu mereka yang terdampak adalah wujud nyata ketakwaan, seperti firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 134: ‘(Orang yang bertakwa adalah) yang berinfak di saat lapang maupun sempit,’” jelasnya.

Nurcholis juga mengritik praktik korupsi dan eksploitasi harta orang lain. “Allah berfirman: ‘Wahai orang beriman, janganlah kalian memakan harta sesama dengan cara batil!’ Jika kaum intelek dan ulama melakukan hal ini, mereka termasuk golongan yang merugi,” ujarnya. Ia mengingatkan agar momen Ramadan tidak disia-siakan.

Usai ibadah, jamaah saling bersalam-salaman sambil berkomitmen mempertahankan kepekaan sosial. “Kita harus terus membantu sesama, bukan hanya saat Ramadan,” ungkap Ahmad, salah satu peserta.

Sebagai penutup, Nurcholis mengingatkan: “Masyarakat akan menilai apakah Ramadan benar-benar mengubah akhlak kita. Islam yang sejati terlihat dari moralitas, bukan sekadar ritual. Mari jadikan Idul Fitri sebagai awal untuk menjaga kesucian jiwa dan memperkuat solidaritas kemanusiaan.”

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI