Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Sekolah Bustanul Ulum Rusak Parah, Minta Relokasi Pasca Banjir

Sekolah Bustanul Ulum Rusak Parah, Minta Relokasi Pasca Banjir

Selasa, 20 Januari 2026 14:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Kepala SMAS Bustanul Ulum, Jailani menerima kunjungan Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, Selasa, 20 Januari 2026. Foto: Kolase Dialeksis


DIALEKSIS.COM | Bener Meriah - Hampir dua bulan setelah banjir bandang menerjang Kabupaten Bener Meriah, dampaknya masih dirasakan dunia pendidikan. SMAS dan SMPS Terpadu Bustanul Ulum menjadi salah satu sekolah yang mengalami kerusakan paling parah dan kini dinilai tak lagi layak digunakan.

Kepala SMAS Bustanul Ulum, Jailani, mengatakan banjir bandang yang disertai longsor pada 26 November 2025 menyebabkan kerusakan berat pada sejumlah fasilitas utama sekolah. Letak sekolah yang berada di tepi aliran sungai membuat bangunan sangat rentan terhadap bencana susulan.

“Kondisi pasca banjir sangat mengkhawatirkan. Beberapa gedung tidak bisa lagi difungsikan karena mengalami retakan serius,” kata Jailani saat menerima kunjungan Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, Selasa, 20 Januari 2026.

Menurut Jailani, gedung asrama siswa, ruang kelas, hingga kantor sekolah mengalami kerusakan struktural. Di bagian belakang sekolah, bangunan laboratorium terdampak longsor, termasuk jembatan penghubung menuju permukiman warga dan akses ke pusat kota.

Kerusakan juga terjadi pada fasilitas pendukung pendidikan lainnya. Musala putra tidak lagi dapat digunakan karena tangganya ambruk dan rangka besinya rusak. Selain itu, perumahan guru, perpustakaan, ruang kepala sekolah, ruang administrasi, ruang guru, serta tiga unit ruang belajar dinyatakan tidak layak pakai.

“Kami tidak berani memaksakan penggunaan bangunan karena berisiko terhadap keselamatan siswa dan guru,” ujar Jailani.

Bencana tersebut juga meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar Bustanul Ulum. Seorang guru, Sandika, meninggal dunia saat berupaya menyelamatkan siswa pada saat kejadian.

“Almarhum wafat sekitar pukul tiga dini hari. Saat itu beliau terjebak di kamar mandi ketika berusaha mengevakuasi siswa, lalu bangunan runtuh dan terbawa arus banjir,” kata Jailani.

Atas kondisi itu, pihak sekolah telah mengajukan permohonan resmi kepada Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia agar dapat membantu pembangunan kembali sekaligus relokasi sekolah ke lokasi yang lebih aman.

“Kami berharap pemerintah pusat dapat membantu relokasi dan pembangunan gedung baru agar proses pendidikan di SMAS dan SMPS Terpadu Bustanul Ulum bisa kembali berjalan normal,” kata Jailani.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI