Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Berita / Aceh / Seumapa: Tradisi Indah Aceh yang Diam-Diam Menghilang

Seumapa: Tradisi Indah Aceh yang Diam-Diam Menghilang

Jum`at, 17 April 2026 10:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Budayawan sekaligus Dosen FKIP Universitas Syiah Kuala, Herman RN. Foto: doc Dialeksis


DIALEKSIS.COM | Aceh - Seumapa merupakan tradisi lisan berbalas pantun khas Aceh yang dahulu menjadi bagian penting dalam prosesi adat perkawinan, khususnya pada intat lintô atau mengantar pengantin pria. Tradisi ini hadir sebagai seni tutur sapa-menyapa antara perwakilan keluarga mempelai, dengan bahasa yang sopan, kreatif, dan penuh makna.

Dalam pelaksanaannya, seumapa tidak hanya menjadi hiburan bernuansa adat, tetapi juga memuat nilai sastra yang tinggi, nasihat pernikahan, serta pesan moral yang disampaikan secara halus. Tradisi ini sekaligus menunjukkan kecerdasan budaya masyarakat Aceh dalam merangkai kata sebagai bentuk penghormatan dan pemuliaan terhadap momen pernikahan.

Budayawan sekaligus Dosen FKIP Universitas Syiah Kuala, Herman RN, menilai seumapa merupakan warisan budaya yang seharusnya tetap dijaga karena mengandung nilai pendidikan, kesantunan, dan identitas masyarakat Aceh. Namun, menurutnya, tradisi ini mulai memudar karena tidak lagi sepenuhnya hidup di tengah masyarakat.

“Seumapa mulai hilang karena ada pergeseran cara pandang masyarakat terhadap adat. Banyak orang sekarang menganggap prosesi berbalas pantun itu tidak praktis. Hanya sekadar hiburan. Padahal, ada nasihat yang kuat di dalam seumapa," ujarnya.

Menurut Herman RN, generasi muda sekarang juga semakin jarang belajar langsung dari para tokoh adat atau orang tua sehingga tidak tahu teknis seumapa yang spontan. "Akibatnya, tradisi ini tidak lagi diwariskan secara utuh,” ujar Herman RN kepada Dialeksis saat diminta pendapatnya. 

Ia menjelaskan, hilangnya seumapa juga dipengaruhi oleh perubahan gaya hidup, berkurangnya minat terhadap sastra lisan, serta semakin sedikit ruang bagi generasi muda untuk berlatih dan tampil dalam forum adat. Ia menambahkan, jika tidak ada upaya serius untuk menghidupkan kembali tradisi tersebut, seumapa hanya akan tinggal sebagai ingatan budaya tanpa praktik nyata di tengah masyarakat.

“Tradisi seperti seumapa sebenarnya punya kekuatan besar. Di dalamnya ada pendidikan karakter, ada etika berbicara, ada penghormatan antarkeluarga, dan ada kebijaksanaan lokal yang sangat berharga. Sayangnya, ketika tidak ada regenerasi dan dokumentasi yang baik, tradisi ini perlahan dianggap asing oleh generasi baru,” kata Herman.

Ketua Dewan Kesenian Banda Aceh itu menutup komentarnya, bahwa pelestarian seumapa dapat dilakukan melalui pendidikan budaya, kegiatan adat, dokumentasi, serta keterlibatan generasi muda dalam acara pernikahan adat. Dengan begitu, tambah dia, seumapa tidak hanya dikenang sebagai warisan masa lalu, tetapi juga kembali menjadi budaya yang hidup di tengah masyarakat Aceh.

"Makanya perlu banyak lokakarya membangkitkan kembali tradisi Aceh yang sudah terendam seperti seumapa, doda idi, dan lain-lain agar tradisi ini tidak hilang digerus zaman," tegas Herman RN yang banyak meneliti tentang tradisi dan budaya Aceh itu.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI