DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Air bah itu datang tanpa aba-aba. Menyapu rumah, sawah, meunasah, dan harapan. Banjir bandang yang melanda berbagai wilayah di Aceh tak hanya merenggut harta benda, tetapi juga melumpuhkan denyut kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.
Sejak awal bencana melanda Aceh, bantuan kemanusiaan dari berbagai penjuru dunia tak kunjung datang secara signifikan. Namun, di saat banyak pihak memilih diam, masyarakat Malaysia justru bergerak. Diam-diam, konsisten, dan penuh keikhlasan.
Hal itu disampaikan Dr. Hilmy Bugak Mascaty, Dewan Pembina Sumatra Crisis Centre (SCC) Peusangan Raya Aceh, yang juga dikenal sebagai Presiden Red Crescent dan Yayasan Bugak Darussalam.
“Sejak awal bencana banjir bandang melanda Aceh, masyarakat dunia”jujur harus diakui”hanya Malaysia yang menunjukkan kesungguhan nyata membantu korban banjir bandang Aceh,” ujar Dr. Hilmy dalam keterangannya kepada media dialeksis.com, Minggu (4/1/2026).
Menurut Dr. Hilmy, gelombang bantuan dari Malaysia justru datang di tengah cibiran dan sikap antipati sebagian elite di Jakarta. Namun, hal itu tak menyurutkan langkah masyarakat Malaysia.
“Walaupun dicemooh oleh para petinggi negara, masyarakat Malaysia menutup mata dan telinga. Mereka terus membantu masyarakat Aceh yang tengah berduka,” katanya.
Setelah menyelesaikan tugas kemanusiaan di sekitar Bugak dan Peusangan Raya, Dr. Hilmy berangkat ke Banda Aceh. Awal Desember 2025, ia melanjutkan perjalanan ke Kuala Lumpur untuk melakukan lobi internasional.
Upaya itu membuahkan hasil. Pada pagi 10 Desember 2025, Dr. Hilmy diterima langsung oleh Perdana Menteri Malaysia, Dato’ Seri Anwar Ibrahim (PMX). Pertemuan yang berlangsung dalam suasana haru itu menjadi titik balik masuknya bantuan Malaysia ke Aceh secara lebih terstruktur.
Dalam pertemuan tersebut, Dr. Hilmy menghubungkan PMX dengan Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) melalui sambungan video call.
“Mualem, jangan bersedih ya. Kami akan bantu dengan segala daya upaya,” ujar PMX kepada Mualem.
Ucapan itu disambut mata berkaca-kaca oleh Gubernur Aceh. PM Malaysia bahkan berjanji akan menghubungi langsung Presiden Prabowo Subianto, selaku Ketua ASEAN, untuk mempercepat koordinasi bantuan kemanusiaan.
Hari-hari berikutnya, dukungan dari Pemerintah Malaysia kian terasa. Pejabat Perdana Menteri Malaysia bergerak cepat membantu mempercepat jalur bantuan ke Aceh. Tak hanya itu, masyarakat Malaysia keturunan Aceh yang dipimpin Datuk Mansur Usman turut bergerak tanpa menunggu komando.
“Bantuan masyarakat Malaysia mengalir ke Aceh bagaikan air bah yang tak mampu dibendung,” ungkap Dr. Hilmy.
Dengan berbagai cara, mereka datang membawa bantuan, logistik, dana, dan tenaga, bahkan hingga ke kampung-kampung terdalam di Aceh. Kesungguhan dan keikhlasan itu terekam luas oleh para pegiat media sosial yang terus menyiarkan kondisi masyarakat Aceh ke dunia.
Di tengah krisis itulah, kesadaran kolektif tumbuh dari akar rumput. Masyarakat Peusangan Raya sepakat bahwa mereka tak boleh hanya menjadi korban, tetapi juga bagian dari solusi.
Kesadaran itu melahirkan Sumatra Crisis Center (SCC) Peusangan Raya, sebuah lembaga kemanusiaan konsorsium tingkat Asia Tenggara yang berpusat di Kuala Lumpur dan dibentuk atas inisiasi tokoh-tokoh Melayu Malaysia dan Sumatra Indonesia.
"Tak ada kata lain. Terima kasih Malaysia. Syukran jazilan. Hanya Allah Yang Maha Pemurah yang mampu membalas jasa kalian,” tutup Dr. Hilmy. [nh]