DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Ulama muda Aceh, Ustad Masrul Aidi, mengingatkan masyarakat agar tidak kehilangan makna sakral Hari Raya Idulfitri di tengah perubahan gaya hidup dan tuntutan ekonomi yang semakin kompleks.
Pandangan tersebut ia sampaikan melalui unggahan di akun media sosial Facebook miliknya yang kemudian dilansir oleh Dialeksis.com pada Jumat (20/3/2026).
Dalam tulisannya, Ustad Masrul Aidi menggambarkan bahwa selama berabad-abad umat Islam di Aceh merayakan hari raya dalam suasana yang penuh kehangatan dan silaturahmi.
Hari raya bukan sekadar ritual ibadah, tetapi juga menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan kekeluargaan dan sosial di tengah masyarakat.
Namun, menurutnya, nuansa tersebut perlahan mulai berubah seiring perkembangan zaman, pertumbuhan ekonomi, serta tuntutan pekerjaan yang semakin tinggi.
“Berabad-abad umat Islam di Aceh menikmati indahnya hari raya dalam nuansa silaturahmi. Namun seiring waktu, seiring pertumbuhan ekonomi dan tuntutan profesi, nuansa tersebut bergeser pelan tapi pasti,” tulisnya.
Ia menilai suasana pagi hari raya yang seharusnya berlangsung tenang dan khusyuk dalam lantunan takbir kini kerap berubah menjadi tergesa-gesa. Banyak orang terburu-buru menuju masjid agar tidak terlambat mengikuti salat Id, lalu segera kembali dengan berbagai kesibukan lainnya.
Ustad Masrul Aidi juga menyoroti fenomena sebagian masyarakat yang harus kembali bekerja pada hari pertama Idulfitri. Padahal, menurutnya, hari tersebut merupakan momen yang sangat emosional dan penting untuk merajut kembali silaturahmi dengan keluarga serta kerabat.
“Pagi hari raya yang sepatutnya tenang dan syahdu dalam lantunan takbir, berubah gaduh dan serba terburu-buru menuju masjid. Hari pertama yang sangat monumental dan emosional untuk merajut silaturahmi, harus berubah menuju tempat kerja yang tak jelas prioritasnya apa,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa dirinya memahami jika beberapa sektor pelayanan publik tetap harus beroperasi pada hari raya, seperti aparat keamanan, layanan kesehatan, transportasi, maupun SPBU. Namun, ia mempertanyakan praktik sejumlah usaha komersial yang tetap menuntut karyawan muslim bekerja pada hari raya.
“Okelah kalau layanan publik seperti polisi, TNI, fasilitas kesehatan, SPBU dan transportasi. Tapi swalayan..?” tulisnya.
Menurut Ustad Masrul Aidi, tidak ada larangan bagi pelaku usaha untuk tetap membuka usaha di hari raya. Namun, ia menilai kurang tepat apabila karyawan muslim dipaksa bekerja pada saat mereka seharusnya merayakan Idulfitri bersama keluarga.
Ia bahkan menyarankan agar para pemilik usaha yang ingin tetap membuka tokonya dapat melayani pelanggan secara langsung bersama keluarga.
“Tidak ada larangan berjualan di hari raya, tapi sangat tidak sopan menuntut karyawan muslim yang sedang berlebaran untuk jualan demi anda. Silakan pemilik swalayan mengajak istri dan anak-anaknya jualan sambil menanti kerabat bersilaturrahmi,” tulisnya.
Lebih jauh, ia juga menyinggung kondisi penerapan syariat Islam di Aceh. Menurutnya, meskipun Aceh dikenal sebagai daerah yang menjalankan syariat Islam, namun dalam praktiknya masih banyak hal yang belum berjalan optimal.
Ia menilai pelaksanaan syariat Islam di Aceh selama dua dekade terakhir belum menunjukkan kemajuan yang signifikan, bahkan cenderung stagnan.
“Aceh yang katanya bersyariat Islam, sudah dua dasawarsa berjalan tapi minim kemajuan, cenderung stagnan bahkan berjalan mundur,” ujarnya.
Ia juga menilai bahwa pelaksanaan syariat Islam sering berjalan tanpa narasi dan gagasan yang kuat. Menurutnya, hal ini bisa saja terjadi karena minimnya literasi para pemangku kebijakan atau karena jabatan hanya dipandang sebagai simbol prestise.
Ustad Masrul Aidi kemudian mengingat kembali sebuah kebijakan yang pernah diusulkan oleh seorang bupati di Kabupaten Aceh Besar, yang meminta agar aktivitas di bandara internasional dihentikan sementara pada hari raya.
Usulan tersebut, menurutnya, sempat diterima dan memberikan pengalaman yang berbeda bagi banyak orang.
“Dulu pernah seorang bupati di Aceh Besar meminta aktivitas di bandara internasional berhenti setengah hari di hari raya. Alhamdulillah usulan itu diterima dan semua pihak bersukacita,” tulisnya.
Ia menggambarkan bagaimana pada saat itu para pilot, pramugari, penumpang, hingga petugas keamanan dapat merasakan suasana Idulfitri bersama di bandara sebelum melanjutkan penerbangan.
Dalam unggahan tersebut, Ustad Masrul Aidi juga menyampaikan apresiasi kepada Irwansyah, anggota DPRK Banda Aceh dari Fraksi Gerindra, yang menurutnya telah mulai menyuarakan persoalan tersebut.
Ia berharap gagasan tersebut tidak berhenti pada wacana semata, tetapi dapat ditindaklanjuti melalui kebijakan yang memberikan ruang bagi masyarakat untuk menikmati hari raya dengan lebih khusyuk dan bermakna.
“Terima kasih Pak Irwansyah sudah berbicara, semoga ada tindak lanjutnya,” tutupnya. [nh]