DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Banjir yang melanda sejumlah wilayah pesisir Aceh menyisakan persoalan kemanusiaan yang belum sepenuhnya tertangani.
Ketua Youth Action On Tactical Transformation (YATTA) Provinsi Aceh, Muhammad Hafiz Daniel, mengungkapkan bahwa kebutuhan dasar korban di lapangan masih jauh dari memadai, terutama terkait akses air bersih, hunian sementara (huntara), sanitasi, hingga layanan kesehatan darurat.
Hafiz yang turun langsung ke dua daerah terdampak Aceh Utara dan Aceh Timur menyebut kondisi di masing-masing wilayah memiliki tantangan berbeda, namun sama-sama mendesak.
“Kebetulan kami turun di dua daerah terdampak. Jadi kebutuhannya memang berbeda-beda,” kata Hafiz saat ditanyai media dialeksis.com, Senin (2/2/2026).
Di Aceh Utara, tim YATTA menyambangi sejumlah kawasan pesisir seperti Kecamatan Lapang dan sekitarnya. Menurut Hafiz, letak geografis yang dekat laut memperparah dampak banjir.
“Di Aceh Utara, beberapa daerah seperti Lapang itu dekat laut. Jadi waktu banjir, luapan airnya bercampur dengan air laut. Dampaknya lebih parah, bukan cuma merendam, tapi juga merusak rumah warga cukup berat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, banyak rumah warga mengalami kerusakan berat hingga tak lagi layak huni. Namun hingga kini, penyediaan hunian sementara dinilai belum mencukupi.
“Huntara belum mem-provide seluruh korban, padahal banyak rumah mereka hancur berat. Warga masih bertahan di rumah rusak atau menumpang di tempat keluarga,” kata Hafiz.
Selain tempat tinggal, krisis air bersih menjadi keluhan paling sering disampaikan warga. “Kendala utama mereka sekarang akses air bersih. Sumur-sumur warga banyak yang tercemar karena banjir bercampur air laut. Jadi untuk minum, masak, sampai mandi pun susah,” tambahnya.
Kondisi lebih memprihatinkan ditemukan tim YATTA di Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur. Hafiz menyebut ada gampong yang kehilangan lebih dari separuh rumah warganya akibat banjir.
“Di Aceh Timur kami sempat ke Pante Bidari, kondisinya sangat parah. Ada gampong yang lebih dari 60 persen rumah warganya hilang disapu banjir,” ungkapnya.
Kerusakan parah itu membuat banyak keluarga kehilangan tempat tinggal sekaligus sumber air bersih dan fasilitas sanitasi.
“Lagi-lagi akses air bersih terbatas, sanitasi juga terkendala. Ini berbahaya karena bisa memicu penyakit pascabanjir,” jelas Hafiz.
Selain kebutuhan fisik seperti air dan hunian, Hafiz menyoroti meningkatnya kasus gangguan kesehatan di pengungsian dan permukiman terdampak.
“Kebutuhan dasar manusia di sana kurang memadai. Penyakit kulit akibat banjir juga sudah banyak yang terjangkit,” katanya.
Menurutnya, genangan air kotor, minimnya air bersih, serta sanitasi yang buruk menjadi kombinasi berisiko tinggi bagi kesehatan warga, terutama anak-anak dan lansia.
YATTA menilai kehadiran layanan kesehatan darurat yang aktif menjangkau warga sangat dibutuhkan, bukan hanya pos statis.
“Jadi selain sekolah darurat untuk anak-anak, layanan kesehatan darurat beserta sosialisasinya sangat diperlukan di daerah sana. Edukasi soal kebersihan dan pencegahan penyakit itu penting supaya tidak makin meluas,” tutupnya. [nh]