DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Diskusi singkat namun substantif terjadi saat redaksi Dialeksis, bersilaturahmi di Rumah Dinas Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh pada Senin (31 Maret 2025). Di sana, ia bertemu dengan Marthunis, S.T., D.E.A., Kepala Dinas Pendidikan Aceh, yang membahas langkah strategis mengatasi fenomena peningkatan kasus LGBT di kalangan generasi muda. Menurut Marthunis, solusi fundamental terletak pada penguatan ketahanan keluarga dan peningkatan kapasitas tenaga pengajar.
“Ketahanan keluarga adalah kunci utama. Keluarga harus menjadi benteng pertama yang membentuk karakter, nilai moral, dan spiritual anak sejak dini. Komunikasi intensif antara orang tua dan anak, pendampingan, serta penanaman nilai agama menjadi pondasi untuk mencegah penyimpangan perilaku,” tegas Marthunis.
Ia menekankan, lemahnya fungsi keluarga sering kali menjadi celah masuknya pengaruh negatif, termasuk eksposur konten yang tidak sesuai di media sosial.
Selain peran keluarga, Marthunis menyoroti pentingnya peran guru dalam membimbing siswa. “Guru tidak hanya bertugas mengajar, tetapi juga mendidik. Kami sedang meningkatkan kapasitas guru melalui pelatihan konseling dan pendekatan psikologis agar mereka mampu mendeteksi perubahan perilaku siswa sejak dini,” ujarnya.
“Sekolah harus menjadi lingkungan yang aman untuk diskusi terbuka, tanpa stigma, namun tetap berpegang pada norma agama dan budaya Aceh,” tambanya lagi.
Ia juga mengungkapkan, Dinas Pendidikan Aceh telah akan merancang program kolaboratif dengan Kementerian Agama, organisasi masyarakat, dan psikolog untuk memberikan edukasi komprehensif tentang kesehatan reproduksi dan dampak LGBT bagi remaja.
“Intinya semua pihak tanpa terkecuali memiliki andil dalam menyelesaikan dan mengatasi kasus LGBT di kalangan generasi penus bangsa dan negara ini,” pungkasnya.