Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Berita / Lebaran 2026: 20 atau 21 Maret? Ini Prediksi yang Bikin Beda

Lebaran 2026: 20 atau 21 Maret? Ini Prediksi yang Bikin Beda

Rabu, 18 Maret 2026 14:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Redaksi

Ilustrasi seseorang sedang memperhitungkan lebaran Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Foto: Antara/Mohammad Ayudha


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Umat Islam di Indonesia menantikan kepastian Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Penentuan 1 Syawal menjadi momen penting karena menandai berakhirnya ibadah puasa Ramadhan, dan keputusan final akan ditetapkan lewat sidang isbat yang digelar pemerintah.

Pemerintah melalui Kementerian Agama menyatakan sidang isbat penetapan 1 Syawal 1447 H akan berlangsung pada Kamis, 19 Maret 2026 (29 Ramadhan) di Jakarta mulai pukul 16.00 WIB. Menurut Abu Rokhmad, sidang akan menggabungkan dua metode utama: hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan hilal).

"Pelaksanaan sidang didasarkan pada data hisab dan hasil rukyat yang diverifikasi, serta melalui mekanisme yang terbuka kepada publik," ujar Abu Rokhmad.

Sambil menunggu keputusan resmi, sejumlah lembaga dan ormas Islam telah mengeluarkan prediksi awal berdasarkan metode masing-masing. Berikut ringkasannya.

Prediksi BRIN: 21 Maret 2026

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi 1 Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Peneliti Pusat Riset Antariksa BRIN, Thomas Djamaluddin, menjelaskan secara astronomi posisi hilal pada Maghrib 19 Maret 2026 di wilayah Asia Tenggara belum memenuhi kriteria yang dipakai MABIMS.

MABIMS sendiri menetapkan visibilitas hilal minimal 3 derajat dan sudut elongasi minimal 6,4 derajat sebagai syarat awal bulan. Thomas mencatat bahwa dengan kriteria lain (misalnya yang dipakai Turki), hasilnya bisa berbeda dan dapat memunculkan tanggal 20 Maret 2026 sebagai 1 Syawal.

Data BMKG: ketinggian hilal berbeda per lokasi

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pengamatan hilal pada 19 Maret 2026 memperkirakan ketinggian hilal saat Matahari terbenam berkisar antara 0,91 derajat di Merauke hingga 3,13 derajat di Sabang. Elongasi geosentris diperkirakan antara 4,54 derajat di Waris hingga 6,1 derajat di Banda Aceh. BMKG juga mengingatkan potensi gangguan dari planet atau bintang terang yang bisa disalahartikan sebagai hilal.

Berdasarkan data BMKG dan kriteria MABIMS, hilal diperkirakan tidak terlihat pada 19 Maret 2026. Jika ini yang terjadi, Ramadhan akan digenapkan 30 hari dan Idul Fitri jatuh pada 21 Maret 2026.

Muhammadiyah: lebih awal, 20 Maret 2026

Berbeda dengan BRIN dan BMKG, Muhammadiyah lebih awal menetapkan 1 Syawal 1447 H pada Jumat, 20 Maret 2026. Penetapan ini mengacu pada metode hisab berbasis Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Kalender resmi pemerintah dan almanak daerah

Publik juga dapat merujuk Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2026 keluaran Kementerian Agama, yang memuat catatan bahwa 1 Syawal 1447 H tercantum pada Sabtu, 21 Maret 2026. Informasi serupa tercantum dalam almanak yang dirilis oleh Lembaga Falakiyah PCNU Kabupaten Bojonegoro.

Jika mengacu pada data astronomi BRIN, pengamatan BMKG, dan kalender resmi Kementerian Agama, kemungkinan besar pemerintah akan menetapkan Idul Fitri 2026 pada Sabtu, 21 Maret 2026. Namun, kepastian resmi tetap menunggu hasil sidang isbat yang akan digelar pada 19 Maret 2026.

Dialeksis akan memantau dan mengabarkan keputusan resmi sidang isbat serta implikasinya terhadap jadwal ibadah dan perayaan di daerah.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI