DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh melakukan tes urine terhadap para sopir angkutan yang terlibat dalam program mudik Idul Fitri 1447 Hijriah.
Pemeriksaan tersebut dilakukan di Depo Trans Koetaradja, Kompleks Terminal Banda Aceh, Sabtu, 14 Maret 2026 sebagai langkah memastikan keselamatan perjalanan masyarakat selama musim mudik.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi sejumlah instansi, yakni BNNP Aceh, Dinas Perhubungan Aceh, Jasa Raharja, serta tim Dokkes Polda Aceh. Pemeriksaan dilakukan dengan metode tes urine untuk mendeteksi kemungkinan penggunaan narkotika oleh para sopir bus yang mengangkut pemudik.
Koordinator Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat (P2M) BNNP Aceh, Dedi Andria, mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan agenda rutin yang dilakukan setiap tahun menjelang arus mudik.
“Terima kasih kepada teman-teman media yang telah hadir. Pelaksanaan tes urine hari ini merupakan kerja sama dan kolaborasi antara BNNP Aceh, Jasa Raharja, Dinas Perhubungan Aceh, serta Dokkes Polda Aceh. Kita berpartisipasi dalam rangka mendukung program mudik gratis yang dilaksanakan Pemerintah Aceh pada tahun 2026,” kata Dedi Andria kepada awak media, Sabtu, 14 Maret 2026.
Ia menjelaskan, tes urine ini menjadi salah satu langkah preventif untuk memastikan para pengemudi angkutan umum benar-benar dalam kondisi sehat dan bebas dari pengaruh narkotika saat mengemudikan kendaraan.
“Ini adalah kegiatan yang secara reguler kita laksanakan setiap tahun. Mudah-mudahan kegiatan ini tidak hanya sampai tahun ini saja, tetapi bisa terus berlanjut di tahun-tahun mendatang,” ujarnya.
Dalam pemeriksaan tersebut, BNNP Aceh menggunakan alat tes urine yang mampu mendeteksi enam jenis zat narkotika sekaligus.
“Kita melakukan tes kepada awak angkutan bus. Ada enam parameter yang dapat terdeteksi melalui alat tes urine yang kita gunakan hari ini. Alat ini bisa mendeteksi penggunaan ganja, sabu, ekstasi, kokain, morfin, serta obat-obatan tertentu,” jelas Dedi.
Menurutnya, alat yang digunakan pada kegiatan ini difasilitasi oleh Jasa Raharja. Hasil pemeriksaan dapat langsung diketahui melalui indikator garis yang muncul pada alat tes.
“Kalau hasilnya menunjukkan dua garis berarti negatif, tetapi kalau hanya satu garis berarti ada indikasi positif. Jika ada yang terdeteksi positif, maka langsung akan kita lakukan assessment oleh tim BNN,” katanya.
Dedi menambahkan, sopir yang dinyatakan positif tidak serta-merta diproses hukum, melainkan terlebih dahulu menjalani asesmen untuk menentukan langkah penanganan yang tepat.
“Kalau memang hasilnya positif, kita akan lakukan assessment. Jika masih dalam kategori ringan, bisa dilakukan rehabilitasi rawat jalan. Tetapi kalau kondisinya sudah cukup berat, tentu akan kita arahkan untuk penanganan yang lebih intensif,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, BNNP Aceh menargetkan pemeriksaan terhadap sekitar 50 orang sopir angkutan. Namun hingga pelaksanaan hari pertama, baru enam orang sopir yang menjalani tes urine.
“Target kita sekitar 50 orang sopir yang akan diperiksa. Hari ini yang sudah datang dan menjalani pemeriksaan baru enam orang. Kita akan menunggu hingga sebelum waktu keberangkatan,” jelas Dedi.
Ia berharap pihak terkait, terutama Dinas Perhubungan Aceh dan pengelola angkutan, dapat mengarahkan para sopir agar bersedia mengikuti pemeriksaan tersebut demi keselamatan bersama.
Lebih lanjut, Dedi mengungkapkan bahwa dalam tiga tahun terakhir pihaknya tidak menemukan sopir angkutan yang positif menggunakan narkotika saat dilakukan tes urine. Namun pada tahun 2018 pernah ditemukan satu sopir yang positif menggunakan sabu.
“Dalam tiga tahun terakhir tidak ada indikasi sopir yang positif. Namun pada tahun 2018 saat kita melakukan tes urine di Sare, pernah ditemukan satu orang sopir yang positif menggunakan sabu,” ungkapnya.
Karena itu, pemeriksaan rutin ini tetap penting dilakukan sebagai langkah antisipasi, apalagi angka kecelakaan lalu lintas sering meningkat menjelang musim mudik.
“Beberapa hari terakhir kita melihat kecelakaan terus meningkat. Ini tentu menjadi kekhawatiran kita, jangan sampai ada indikasi penggunaan narkoba yang memengaruhi konsentrasi pengemudi,” katanya.
Ke depan, BNNP Aceh juga berencana memperkuat pengawasan dengan membentuk program terminal bersih dari narkoba. Program tersebut akan melibatkan berbagai pihak dan memungkinkan dilakukannya tes urine secara mendadak.
“Dua hari lalu sudah ada pertemuan antara Kepala BNNP Aceh dengan Dinas Perhubungan Aceh. Salah satu rencana ke depan adalah membentuk terminal bersih dari narkoba,” jelasnya.
Menurut Dedi, dalam program tersebut nantinya akan dilakukan pemeriksaan mendadak terhadap sopir maupun awak angkutan tanpa pemberitahuan sebelumnya.
“Tes urine bisa dilakukan secara tiba-tiba tanpa seremoni seperti ini. Bisa saja dilakukan di terminal atau bahkan di tengah perjalanan dengan melibatkan berbagai stakeholder,” tutupnya.