DIALEKSIS.COM | Dunia - Sejarah mencatat bahwa Islam pernah mengalami perkembangan yang cukup pesat di China, terutama pada masa awal pemerintahan Dinasti Ming. Periode ini berlangsung pada masa kekuasaan Zhu Yuanzhang, pendiri Dinasti Ming yang memerintah dari tahun 1368 hingga 1398.
Pada masa tersebut, Islam tidak lagi sekadar menjadi agama yang dianut oleh komunitas kecil. Ajaran Islam mulai berkembang luas dan menempati ruang penting dalam kehidupan sosial, bahkan merambah ke lingkungan politik kekaisaran.
Riset bertajuk Islam in Imperial China (2019) mencatat bahwa awal pemerintahan Dinasti Ming merupakan salah satu periode paling kondusif bagi pertumbuhan komunitas Muslim di China. Dalam periode ini, jumlah masyarakat yang memeluk Islam meningkat cukup signifikan.
Penyebaran Islam terjadi melalui berbagai jalur sosial. Dakwah banyak dilakukan secara personal dan menyasar komunitas-komunitas lokal. Proses ini berlangsung melalui hubungan keluarga, jaringan klan, hingga aktivitas perdagangan yang mempertemukan berbagai kelompok masyarakat.
Interaksi sosial tersebut membuat ajaran Islam semakin dikenal luas di berbagai wilayah China dan menarik minat masyarakat setempat untuk memeluk agama tersebut.
Selain faktor sosial, dukungan pemerintah kekaisaran juga ikut mempercepat perkembangan Islam. Pada masa itu, pemerintahan Dinasti Ming memberikan ruang bagi pembangunan masjid serta pusat-pusat pembelajaran agama.
Para ulama dan cendekiawan Muslim juga memperoleh kesempatan untuk berkembang dan berkontribusi dalam kehidupan masyarakat.
Tidak hanya di bidang sosial dan keagamaan, komunitas Muslim bahkan mulai terlibat dalam struktur pemerintahan kekaisaran. Sejumlah tokoh Muslim direkrut untuk mengisi berbagai posisi penting, mulai dari administrasi negara, militer, hingga lingkungan istana.
Beberapa di antaranya dipercaya memegang jabatan strategis seperti penasihat kekaisaran, utusan diplomatik, kasim istana, hingga gubernur wilayah. Keterlibatan ini membuat komunitas Muslim memiliki pengaruh yang cukup besar dalam kehidupan politik dan sosial di masa tersebut.
Jejak penerimaan budaya Islam juga terlihat pada sejumlah artefak istana dari era Dinasti Ming. Beberapa benda peninggalan kerajaan diketahui memiliki hiasan kaligrafi Arab dan Persia, yang menunjukkan adanya pengaruh tradisi Islam di lingkungan kekaisaran.
Meski demikian, perkembangan Islam pada masa itu juga berjalan beriringan dengan proses asimilasi budaya. Komunitas Muslim di China secara perlahan menyesuaikan diri dengan budaya lokal.
Penelitian berjudul Islam in Imperial China: Sinicization of Minority Muslims and Synthesis of Chinese Philosophy and Islamic Tradition (2019) menyebut proses ini sebagai sinisasi, yakni adaptasi budaya yang membuat sebagian identitas kultural Muslim Hui berbaur dengan tradisi Tionghoa.
Salah satu bukti menarik dari hubungan antara kekaisaran Ming dan Islam adalah sebuah puisi pujian terhadap Nabi Muhammad yang dikenal sebagai Hundred-Word Eulogy. Teks tersebut sering dikaitkan dengan masa pemerintahan Zhu Yuanzhang dan menggambarkan Nabi Muhammad sebagai sosok bijak yang membawa rahmat bagi seluruh alam.
Sejumlah penelitian menyebut keberadaan puisi tersebut menunjukkan bahwa Zhu Yuanzhang memiliki pemahaman terhadap ajaran Islam, meskipun ia sendiri tidak menjadi pemeluk agama tersebut. Pujian tersebut sekaligus menandakan bahwa pada masa itu Islam dipandang sebagai kekuatan moral dan spiritual yang memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat China.