DIALEKSIS.COM | Jakarta - Dialekers tentu tak asing dengan kopi Arabika. Namun, tahukah Anda bahwa sejarah kopi berakar pada ritual spiritual para sufi di Yaman berabad - abad silam?
Meski kini kopi dibudidayakan di negara tropis seperti Amerika Latin, Afrika Sub - Sahara, Vietnam, dan Indonesia, asal-usulnya justru berasal dari dataran tinggi Yaman dan Ethiopia. Legenda menyebutkan, minuman kopi pertama kali dikonsumsi oleh seorang penggembala di Ethiopia yang memperhatikan kambingnya menjadi energik setelah memakan biji tanaman liar. Namun, budidaya kopi secara sistematis baru dimulai di Yaman pada abad ke - 15.
Orang Yaman menyebutnya qahwa—istilah yang awalnya merujuk pada anggur. Para sufi memanfaatkan kopi untuk meningkatkan konsentrasi selama ritual zikir dan ibadah malam. Dari sinilah budaya minum kopi mulai menyebar ke Mekkah pada 1414, lalu ke Mesir melalui Pelabuhan Mocha, Yaman, pada awal 1500 - an.
Kontroversi dan Penolakan di Dunia Islam
Kedai kopi pertama bermunculan di sekitar Universitas Al-Azhar, Kairo, serta Aleppo dan Istanbul pada 1554. Tempat ini menjadi pusat diskusi, permainan catur, dan pembacaan puisi.
Namun, kehadirannya menuai kritik dari kalangan ulama yang mempertanyakan status hukum kopi. Sebagian menyamakan efeknya dengan alkohol, sementara lainnya menuding kedai kopi sebagai sarang pemberontakan. Meski Sultan Ottoman Murad IV sampai menerapkan hukuman mati untuk peminum kopi pada 1623 - 1640, larangan ini gagal total. Alih-alih hilang, kopi justru makin populer.
Ekspansi ke Eropa dan Diplomasi Cangkir Kopi
Kopi tiba di Eropa melalui dua jalur: perdagangan dengan Kesultanan Ottoman dan pelayaran dari Pelabuhan Mocha. Awalnya, minuman ini dicurigai sebagai "produk Muslim", hingga Paus Clement VIII pada 1600 disebutkan membaptisnya secara simbolis agar bisa diterima umat Kristiani. Di Wina, tradisi minum kopi menguat setelah pasukan Eropa merampas persediaan kopi Ottoman usai Pertempuran Wina 1683.
Kedai kopi di Eropa pun menjadi simbol intelektualisme. Di Paris, Café Procope menjadi markas tokoh revolusioner seperti Marat dan Robespierre. Sementara di Inggris, Raja Charles II sempat berusaha menutup kedai kopi pada 1675 karena dianggap sebagai sarang kritik terhadap pemerintahan.
Warisan Budaya dalam Secangkir Kopi
Meski disebut "kopi Turki", minuman berkonsistensi kental ini juga menjadi ciri kawasan Timur Tengah. Di Yunani, ia dinamai "kopi Yunani", sementara negara Arab menambahkan kapulaga atau rempah untuk memperkaya rasa. Tradisi menyajikannya dengan segelas air seperti di Wina atau Istanbul menjadi bukti bahwa kopi bukan sekadar minuman, melainkan simbol persilangan budaya yang bertahan melintasi zaman.
Dari ritual sufi hingga kudeta politik, kisah kopi membuktikan betaua setiap tegukannya menyimpan narasi panjang tentang manusia, kekuasaan, dan peradaban.