DIALEKSIS.COM | Tonga - Kepulauan Tonga diguncang gempa bumi berkekuatan 7,1 Skala Richter (SR) pada Senin, 30 Maret 2025. Pusat gempa terletak sekitar 90 km tenggara Desa Pangai, kedalaman 10 km, memicu respons cepat dari Pusat Peringatan Tsunami Pasifik (PTWC).
Peringatan tsunami darurat dikeluarkan untuk wilayah dalam radius 300 km dari episentrum, dengan prediksi gelombang setinggi 0,3–1 meter yang berpotensi menghantam pesisir Tonga dan Niue. Warga diimbau segera mengungsi ke dataran tinggi untuk menghindari risiko terburuk.
Tonga, yang terletak di jantung Cincin Api Pasifik, dikenal sebagai wilayah rawan gempa dan tsunami akibat aktivitas tektonik lempeng yang intens. Zona seismik sepanjang 40.000 km ini mencakup 90% gempa bumi global, termasuk beberapa bencana terdahsyat dalam sejarah. Ahli geologi mengingatkan, posisi Tonga di antara Lempeng Pasifik dan Indo-Australia membuatnya rentan terhadap guncangan besar yang kerap diikuti tsunami destruktif.
Sejarah Kelam Gempa Besar di Cincin Api:
Tsunami sering disebut "pembunuh senyap" karena kecepatannya mencapai 800 km/jam di laut lepas. Meski tinggi gelombang di Tonga kali ini diprediksi moderat (1 meter), sejarah membuktikan gelombang setinggi 3 meter saja mampu meratakan pemukiman, seperti yang terjadi di Severo-Kurilsk, Rusia (1952).
Pemerintah Tonga telah memperkuat sistem peringatan dini dan jalur evakuasi pasca gempa Hunga Tonga-Hunga Ha'apai 2022. Namun, pakar kebencanaan menekankan pentingnya edukasi masyarakat, terutama di daerah terpencil, untuk mengenali tanda alam seperti getaran kuat dan surutnya air laut secara tiba-tiba.
Aktivitas Cincin Api Pasifik yang semakin intens belakangan ini mengingatkan kita akan ketidakpastian alam. Dari Aceh hingga Jepang, bencana mengajarkan bahwa kesiapan, mitigasi, dan solidaritas global adalah tameng terbaik menghadapi ancaman yang tak terduga.