Minggu, 07 Juni 2026
Beranda / Berita / Dunia / Harta Karun 1.200 Tahun Ditemukan di Jalur Haji Kuno Arab Saudi

Harta Karun 1.200 Tahun Ditemukan di Jalur Haji Kuno Arab Saudi

Sabtu, 06 Juni 2026 12:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Penemuan emas di situs arkeologi Dhariyah, wilayah Al-Qassim.  Foto: X/Komisi Warisan Saudi


DIALEKSIS.COM | Riyadh - Tim arkeolog Arab Saudi menemukan timbunan harta karun berusia sekitar 1.200 tahun di situs purbakala Dhariyah, wilayah Al-Qassim. Temuan langka itu berupa koleksi emas, perak, batu permata, serta fragmen tembaga yang tersimpan di dalam sebuah guci keramik kuno.

Penemuan tersebut menjadi perhatian dunia arkeologi karena berada di jalur haji abad pertengahan yang dahulu menghubungkan Basra, Irak bagian selatan, dengan Makkah di Arab Saudi. Jalur ini pernah menjadi lintasan penting bagi para jemaah haji yang menempuh perjalanan panjang menuju Tanah Suci.

Tim dari Komisi Warisan Budaya Arab Saudi menyebut temuan itu sebagai “Harta Karun Dhariyah”. Dalam guci tersebut, arkeolog menemukan lebih dari 100 benda berharga, termasuk perhiasan emas dan perak yang dihiasi batu permata.

Para peneliti menduga, harta karun tersebut kemungkinan dikubur oleh seorang jemaah haji kaya yang sedang melakukan perjalanan suci lebih dari seribu tahun lalu. Meski begitu, para ahli belum dapat memastikan secara pasti siapa pemiliknya dan mengapa benda-benda berharga itu disembunyikan di lokasi tersebut.

Penemuan ini bukan hasil kerja singkat. Para arkeolog Komisi Warisan Budaya Arab Saudi telah meneliti situs Dhariyah selama enam tahun. Melalui analisis radiokarbon terhadap sisa-sisa organik di lokasi, para ahli memperkirakan permukiman utama di kawasan itu aktif sekitar tahun 743 hingga 753 Masehi.

Periode itu beririsan dengan masa awal berdirinya Kekhalifahan Abbasiyah, yang berkuasa sejak 750 Masehi. Era Abbasiyah kemudian dikenal sebagai salah satu masa penting dalam sejarah peradaban Islam, terutama karena berkembangnya ilmu pengetahuan, seni, arsitektur, dan kebudayaan.

Sebelum menemukan guci berisi perhiasan tersebut, tim arkeolog lebih dulu memetakan sisa-sisa permukiman kuno di situs Dhariyah. Mereka menemukan bak air berbahan gips, dinding bangunan tempat tinggal, pecahan tembikar, serta fragmen kaca yang diduga digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat masa itu.

Namun, penemuan guci keramik berisi perhiasan di dalam salah satu struktur bangunan menjadi kejutan besar. Benda-benda tersebut menunjukkan tingkat keterampilan tinggi para perajin logam pada masa Islam awal.

Perhiasan itu dihiasi motif flora dan pola geometris yang rumit. Teknik pembuatannya memperlihatkan kemampuan artistik yang maju, mulai dari pembentukan lembaran emas tipis, ukiran timbul, hingga pemasangan batu permata berharga dan semi-berharga.

Bagi para peneliti, temuan ini tidak hanya bernilai karena kandungan emas dan permatanya, tetapi juga karena membuka kembali jejak kehidupan sosial, ekonomi, dan spiritual di jalur haji kuno. Dhariyah diduga pernah menjadi salah satu titik persinggahan penting bagi para pelancong dan jemaah haji yang bergerak dari Irak menuju Makkah.

Hingga kini, situs Dhariyah masih menyimpan banyak misteri. Otoritas warisan budaya Arab Saudi berencana melanjutkan penggalian untuk mengungkap lebih jauh peran kawasan tersebut dalam jaringan perjalanan haji, perdagangan, dan perkembangan peradaban Islam awal.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI