DIALEKSIS.COM | Internasional - Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran mengancam akan menargetkan fasilitas nuklir Israel di Dimona sebagai balasan atas serangan Amerika Serikat terhadap kapal perang Iran di dekat Sri Lanka, Rabu (4/3/2026).
Ancaman tersebut dilaporkan kantor berita semi-resmi Iran, ISNA. Seorang pejabat militer Iran menyebut bahwa Teheran mempertimbangkan untuk menjadikan reaktor nuklir Dimona sebagai target serangan.
Fasilitas nuklir yang berada di kota Dimona, Gurun Negev, Israel selatan itu selama ini diyakini menjadi pusat pengembangan program senjata nuklir Israel. Kompleks tersebut dikenal sebagai Pusat Penelitian Nuklir Shimon Peres Negev.
Israel sendiri tidak pernah secara resmi mengonfirmasi maupun membantah kepemilikan senjata nuklir. Meski demikian, negara tersebut secara luas diyakini sebagai satu-satunya negara di kawasan Timur Tengah yang memiliki persenjataan nuklir.
Ancaman terhadap fasilitas Dimona muncul setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengecam keras serangan Amerika Serikat terhadap fregat Iran di perairan internasional dekat Sri Lanka.
Dalam pernyataannya, Araghchi menuding Washington telah melakukan tindakan agresi yang tidak dapat dibenarkan.
“Kapal fregat Dena, yang merupakan tamu Angkatan Laut India dan membawa hampir 130 pelaut, diserang di perairan internasional tanpa peringatan,” kata Araghchi seperti dikutip media New Arab.
Ia juga memperingatkan bahwa Amerika Serikat akan menghadapi konsekuensi atas tindakan tersebut.
“Ingat kata-kata saya: Amerika Serikat akan sangat menyesali preseden yang telah mereka tetapkan,” ujarnya.
Serangan yang dilaporkan diluncurkan dari kapal selam milik Amerika Serikat itu disebut menewaskan sedikitnya 87 pelaut Iran. Sementara itu, Angkatan Laut Sri Lanka dilaporkan telah menyelamatkan 32 korban selamat dari insiden yang terjadi di sekitar Pelabuhan Galle.
Di tengah meningkatnya ketegangan, laporan AFP menyebutkan satu kapal perang Iran lainnya kini sedang menuju perairan teritorial Sri Lanka dan telah meminta izin untuk memasuki wilayah tersebut secara aman.
Situasi ini menambah daftar panjang eskalasi konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat dalam beberapa waktu terakhir. Para pengamat menilai perkembangan ini berpotensi memperluas konflik di kawasan, bahkan memicu ketegangan global yang lebih besar.