DIALEKSIS.COM | AS - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah kedua negara saling melancarkan aksi militer di kawasan Teluk. Bentrokan terbaru ini memicu kekhawatiran runtuhnya gencatan senjata rapuh yang selama beberapa pekan terakhir menahan eskalasi konflik di kawasan tersebut.
Militer Iran pada Kamis (7/5/2026)mengklaim telah menyerang sejumlah kapal Angkatan Laut AS sebagai balasan atas serangan terhadap kapal tanker minyak Iran di perairan teritorialnya. Teheran juga menuding Washington melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan melancarkan serangan udara ke wilayah sipil, termasuk Pulau Qeshm.
Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya menyebut serangan itu dilakukan bersama beberapa negara regional, meski tidak merinci pihak yang dimaksud. Iran menegaskan serangan balasan mereka menyebabkan kerusakan besar pada kapal-kapal militer Amerika.
“Republik Islam Iran akan memberikan respons yang menghancurkan terhadap setiap agresi tanpa keraguan sedikit pun,” demikian pernyataan militer Iran.
Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengungkapkan bahwa operasi balasan dilakukan menggunakan rudal balistik, rudal jelajah anti-kapal, dan drone tempur berkekuatan ledak tinggi.
Sementara itu, Komando Pusat militer AS (CENTCOM) membantah klaim kerusakan terhadap armadanya. Washington menyatakan seluruh serangan Iran berhasil dicegat dan tidak ada aset militer AS yang terkena dampak.
“Pasukan kami melakukan tindakan pertahanan diri dan tetap siap melindungi personel Amerika,” kata CENTCOM.
Insiden ini menjadi konfrontasi militer pertama sejak AS memperketat blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Dalam beberapa pekan terakhir, militer AS diketahui menyita sejumlah kapal Iran dan memaksa puluhan kapal lainnya berbalik arah di kawasan Teluk.
Media-media Iran melaporkan ledakan terdengar di sejumlah wilayah pesisir selatan, termasuk Pulau Qeshm, Bandar Abbas, dan Minab. Kantor berita Tasnim bahkan menyebut tiga kapal perusak AS menjadi sasaran serangan Iran dan mundur menuju Teluk Oman.
Konflik terbaru ini muncul di tengah upaya diplomatik Washington dan Teheran yang dikabarkan masih berlangsung untuk mengakhiri perang. Namun keputusan Presiden AS Donald Trump yang memerintahkan operasi pembukaan blokade di Selat Hormuz awal pekan ini disebut memicu lonjakan ketegangan baru di kawasan Timur Tengah. [Aljazeera]