Jum`at, 26 Juni 2026
Beranda / Berita / Dunia / Ketegangan Selat Hormuz Berlanjut, Iran Larang Kapal Melintas di Luar Jalur Resmi

Ketegangan Selat Hormuz Berlanjut, Iran Larang Kapal Melintas di Luar Jalur Resmi

Kamis, 25 Juni 2026 15:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Kapal tanker minyak dan kapal kargo tetap berlabuh di lepas Pelabuhan Sultan Qaboos pada 21 Juni 2026 di Muscat, Oman. [Foto: Elke Scholiers/Getty Images]


DIALEKSIS.COM | Teheran - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan seluruh kapal yang melintasi Selat Hormuz agar tidak menggunakan jalur pelayaran baru tanpa koordinasi dengan Teheran. Iran menegaskan hanya koridor pelayaran yang telah ditetapkan otoritasnya yang boleh digunakan.

Dalam pernyataan yang dikutip media Iran, Angkatan Laut IRGC menyebut setiap pergerakan kapal di luar jalur yang ditentukan dianggap berbahaya dan tidak diizinkan. Kapal-kapal juga diwajibkan berkomunikasi dengan otoritas Iran melalui saluran yang telah ditetapkan.

Peringatan tersebut muncul setelah kelompok informasi maritim internasional merekomendasikan koridor pelayaran alternatif di sisi selatan Selat Hormuz, tepatnya melalui perairan teritorial Oman. Jalur itu disebut telah dipastikan bebas ranjau dan dinilai lebih aman bagi kapal-kapal komersial.

Meski demikian, Iran menolak penggunaan jalur tersebut tanpa persetujuan resmi. Sikap Teheran menunjukkan upaya mempertahankan pengaruh dan kendali operasional atas salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia.

Data MarineTraffic menunjukkan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mulai pulih setelah sempat terganggu akibat konflik. Pada akhir pekan lalu, jumlah kapal yang melintas meningkat hingga tiga kali lipat dibandingkan periode sebelumnya. Namun, angka tersebut masih berada di bawah tingkat normal sebelum konflik, yang mencapai lebih dari 100 kapal per hari.

Pada Selasa (23/6/2026), MarineTraffic mencatat 31 pelayaran terverifikasi oleh kapal komersial dan kapal pengangkut energi. Menurut perusahaan pelacakan kapal tersebut, operator pelayaran masih bersikap hati-hati dan belum sepenuhnya kembali ke pola operasi normal.

Sementara itu, Amerika Serikat sebelumnya menjatuhkan sanksi terhadap Otoritas Selat Teluk Persia Iran. Washington menilai kebijakan Iran berpotensi menghambat perdagangan maritim global dan menegaskan tidak akan menerima sistem pungutan atau pembatasan yang diberlakukan di Selat Hormuz.

Analis memperingatkan bahwa kendali Iran atas jalur strategis tersebut dapat berdampak jangka panjang terhadap arus perdagangan minyak dunia. Jika Teheran terus mempertahankan pengaruh operasionalnya di Selat Hormuz, volume pengiriman energi diperkirakan tidak akan kembali ke tingkat sebelum konflik.

Kepala Strategi Komoditas Global RBC Capital Markets, Helima Croft, menilai lalu lintas kapal tanker minyak sebelum konflik kemungkinan menjadi level tertinggi yang sulit dicapai kembali dalam waktu dekat. Menurutnya, setiap penyelesaian konflik yang tetap memberi Iran kendali atas Selat Hormuz berpotensi menekan volume pelayaran melalui jalur tersebut. [ab, sk, cnbc]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI
dishes