DIALEKSIS.COM | Seoul - Korea Selatan berencana memperluas wilayah operasi unit angkatan laut Cheonghae hingga mendekati Selat Hormuz. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan keamanan pelayaran dan melindungi kepentingan ekonomi negara tersebut di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Kementerian Pertahanan Nasional Korea Selatan menyatakan akan meminta persetujuan Majelis Nasional untuk memperpanjang mandat unit Cheonghae yang berakhir pada akhir 2026. Usulan tersebut juga mencakup perluasan wilayah patroli hingga perairan dekat Pelabuhan Duqm, Oman, sekitar 650 kilometer dari Selat Hormuz.
Menurut laporan Yonhap, usulan itu akan diajukan setelah memperoleh persetujuan kabinet pada pekan depan.
Unit Cheonghae selama ini bertugas melakukan patroli anti-pembajakan di Teluk Aden sejak 2009. Dalam misi terbarunya, gugus tugas tersebut mengerahkan kapal perusak Chungmugong Yi Sun-sin berbobot 4.400 ton yang membawa sekitar 300 personel dan satu helikopter maritim.
Jika disetujui, wilayah operasinya akan diperluas hingga sekitar 1.930 kilometer atau dua kali lipat dari jangkauan sebelumnya. Jumlah personel juga akan ditambah 75 orang, termasuk tim penjinak bom, serta didukung pesawat patroli maritim P-8A.
Pemerintah Korea Selatan menegaskan misi tersebut bersifat non-tempur. Unit Cheonghae tetap berada di bawah komando Seoul dan tidak akan bergabung dengan pasukan sekutu.
Seorang pejabat pertahanan mengatakan perluasan misi bertujuan melindungi warga negara Korea Selatan dan kepentingan ekonominya. Operasi juga dibatasi di perairan lepas selatan Oman. Pesawat patroli dilarang memantau wilayah Iran, perairan teritorial negara tersebut, maupun bagian dalam Selat Hormuz.
Rencana ini muncul di tengah tekanan Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar Korea Selatan mendukung upaya Washington menghadapi Iran.
Sebelumnya, Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung menyatakan kesediaan membantu menjaga keamanan pelayaran dalam pembicaraan yang dipimpin Inggris dan Prancis pada April. Namun, pada September, Lee menegaskan tidak ingin mengambil langkah yang berpotensi menyeret negaranya ke dalam perang.
Rencana perluasan patroli tersebut juga mendapat penolakan dari oposisi. Ketua fraksi Rebuilding Korea Party, Kim Joon-hyung, menilai perluasan wilayah operasi pada dasarnya merupakan bentuk pengerahan pasukan.
Ia memperingatkan langkah tersebut dapat meningkatkan risiko pembalasan Iran terhadap personel Korea Selatan, meskipun pemerintah menyebut misi itu tidak melibatkan operasi tempur.[Aljazeera, Reuters]