Senin, 10 Agustus 2026
Beranda / Berita / Dunia / Korea Utara Gunakan AI untuk Perkuat Serangan Siber, Kimsuky Jadi Sorotan

Korea Utara Gunakan AI untuk Perkuat Serangan Siber, Kimsuky Jadi Sorotan

Senin, 10 Agustus 2026 15:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Kode biner terlihat di layar dengan latar belakang bendera Korea Utara, pada 1 November 2017 [Foto: Thomas White/Reuters]


DIALEKSIS.COM | Seoul- Sebuah laporan mengungkapkan bahwa peretas yang didukung oleh negara Korea Utara menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk memperkuat serangan siber terhadap target-target di bidang militer, diplomasi, dan akademis.

Kimsuky, kelompok peretas yang terkait dengan badan intelijen Korea Utara, telah menggunakan dokumen hasil olahan AI dalam pola serangan spear-phishing sejak tahun 2026, demikian pernyataan perusahaan keamanan siber Korea Selatan, Genians, dalam laporan yang dirilis pada hari Senin (10/8/2026).

Serangan-serangan tersebut memanfaatkan AI untuk mengotomatisasi pembuatan berkas berbahaya yang disamarkan sebagai dokumen resmi, seperti laporan penelitian dan surat undangan, ungkap Genians yang berbasis di Seoul.

Untuk menghindari deteksi, Kimsuky menggunakan perangkat sumber terbuka (open-source) seperti Ollama, GPT-4All, dan Msty guna menjalankan model bahasa besar (large language models) tanpa koneksi internet, menurut laporan tersebut.

"AI mampu menghasilkan dokumen yang sangat rapi dan berkualitas tinggi mengenai berbagai topik dalam waktu singkat, menjadikannya alat yang sangat efisien bagi pelaku ancaman," ujar Genians. "Perubahan ini patut dicermati karena dampaknya melampaui sekadar cara pembuatan dokumen umpan; hal ini menunjukkan bahwa AI dapat memfasilitasi otomatisasi dan produksi serangan rekayasa sosial dalam skala besar."

Kimsuky dan kelompok lain yang terkait dengan negara Korea Utara dituding sebagai dalang di balik berbagai serangan siber dalam beberapa tahun terakhir, yang banyak di antaranya bertujuan untuk meraup keuntungan finansial.

Peretas Korea Utara mencuri mata uang kripto senilai lebih dari US$2 miliar dalam sembilan bulan pertama tahun 2025, menurut laporan perusahaan analisis blockchain asal Inggris, Elliptic.

Pada tahun 2014, pihak berwenang AS mengidentifikasi Korea Utara sebagai pelaku peretasan terhadap Sony Picture--perusahaan yang memicu kemarahan Pyongyang karena menyindir pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, dalam film komedi "The Interview".

Jenny Town, seorang peneliti senior di Stimson Center di Washington, DC, mengatakan bahwa perkembangan ini tidaklah mengejutkan mengingat rekam jejak serangan siber Korea Utara.

"Para peretas dan pemrogram Korea Utara sangat mampu memanfaatkan dan mengeksploitasi berbagai perangkat AI untuk menunjang aksi mereka," ujar Town. "Ini adalah realitas baru bagi semua pelaku ancaman; Korea Utara pun tidak terkecuali."

Mark T. Hofmann, seorang analis kriminal dan intelijen yang berspesialisasi dalam kejahatan siber, mengatakan bahwa AI telah memicu perubahan drastis dalam dunia kejahatan siber dengan menurunkan hambatan bagi pelaku kejahatan untuk melancarkan aksi berbahaya.

"Anda tidak lagi memerlukan keahlian meretas ataupun gelar master di bidang ilmu komputer. Yang Anda butuhkan hanyalah komputer dan sebuah motif," ujar Hofmann.

"Para pelaku ancaman di seluruh dunia akan semakin banyak menggunakan AI generatif dan--yang jauh lebih mengkhawatirkan--agen AI untuk mempercepat serangan siber mereka," tambah Hofmann. "Sisi gelap AI merupakan salah satu tantangan utama dekade ini. Serangan siber yang didukung oleh AI akan menjadi fenomena yang umum terjadi." [jp-Aljazeera]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI