Minggu, 27 September 2026
Beranda / Berita / Dunia / Netanyahu Minim Pertemuan di PBB, Isolasi Diplomatik Israel Kian Disorot

Netanyahu Minim Pertemuan di PBB, Isolasi Diplomatik Israel Kian Disorot

Sabtu, 26 September 2026 14:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Foto: Ist


DIALEKSIS.COM | New York - Kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke New York untuk menghadiri Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun ini menjadi sorotan. Bukan hanya karena perang di Gaza dan situasi di Tepi Barat, tetapi juga lantaran minimnya agenda pertemuan Netanyahu dengan para pemimpin negara Barat.

Agenda Netanyahu selama berada di New York tidak mencantumkan pertemuan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Padahal, Washington selama ini merupakan sekutu utama Israel dan Trump memiliki hubungan politik yang dekat dengan Netanyahu.

Kondisi tersebut memunculkan pembicaraan mengenai semakin tertekannya posisi diplomatik pemerintahan Netanyahu di tengah meningkatnya kritik internasional terhadap kebijakan Israel.

Sejumlah media Israel sebelumnya melaporkan adanya upaya mengatur pertemuan Netanyahu dengan sejumlah pemimpin dunia di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB. Namun, agenda kunjungan yang diumumkan justru tidak mencantumkan pertemuan dengan Trump maupun sejumlah pemimpin utama negara Barat.

Analis intelijen militer Israel, Barak Seri, bahkan menggambarkan kunjungan Netanyahu ke New York kali ini sebagai perjalanan yang sangat singkat dengan agenda pertemuan terbatas. Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan meningkatnya tekanan terhadap Netanyahu di panggung internasional.

Mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel, Dan Shapiro, juga menyoroti perubahan posisi Israel di Amerika Serikat. Ia menilai dukungan politik terhadap Israel mengalami penurunan, termasuk di sebagian kalangan politik AS yang selama ini relatif dekat dengan Tel Aviv.

Situasi itu berlangsung ketika perang Gaza dan kebijakan Israel di Tepi Barat terus menjadi salah satu isu utama dalam Sidang Majelis Umum PBB.

Dalam rangkaian persidangan tahun ini, sejumlah pemimpin dunia kembali menyinggung kondisi kemanusiaan di Gaza dan masa depan Palestina. Netanyahu sendiri hadir untuk menyampaikan posisi pemerintah Israel di hadapan Majelis Umum.

Selain persoalan Gaza, proyek permukiman Israel di Tepi Barat juga menjadi sumber ketegangan baru dengan sejumlah negara Barat. Inggris, Prancis, Kanada dan beberapa negara lain sebelumnya mengambil langkah terhadap aktivitas permukiman Israel dan mendorong kembali isu Palestina dalam agenda diplomatik internasional.

Meski demikian, Kantor Perdana Menteri Israel membantah kesan bahwa Netanyahu sepenuhnya dijauhi komunitas internasional. Pemerintah Israel menyatakan terdapat banyak permintaan pertemuan dari pemimpin negara, sementara tidak semuanya dapat dimasukkan ke dalam agenda karena keterbatasan waktu.

Agenda Netanyahu disebut tetap mencakup pertemuan dengan sejumlah pemimpin negara, antara lain dari Argentina, Paraguay, Panama, Ethiopia, Yunani, Slovenia, serta Papua Nugini.

Namun, absennya pertemuan dengan Trump dan sejumlah pemimpin utama Barat tetap menjadi perhatian.

Mantan diplomat Israel Alon Liel menilai posisi internasional Israel saat ini lebih lemah dibandingkan sebelum pecahnya perang pada Oktober 2023. Menurut dia, tekanan yang muncul tidak hanya berasal dari negara-negara Eropa, tetapi juga mulai terlihat dalam hubungan politik Israel dengan Amerika Serikat.

Kunjungan Netanyahu ke New York juga berlangsung di tengah ancaman demonstrasi yang mengecam operasi militer Israel di Gaza.

Pada November 2024, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Israel menolak yurisdiksi ICC dan membantah tuduhan tersebut. Amerika Serikat juga bukan negara pihak Statuta Roma yang menjadi dasar pembentukan ICC.

Rangkaian peristiwa itu memperlihatkan bahwa diplomasi Israel kini menghadapi medan yang semakin kompleks. Di satu sisi, Tel Aviv masih memiliki hubungan dengan sejumlah negara dan dukungan strategis Amerika Serikat. Di sisi lain, perang Gaza, persoalan Tepi Barat, serta meningkatnya tekanan internasional membuat ruang diplomatik pemerintahan Netanyahu menjadi semakin berat.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI