Sabtu, 20 Juni 2026
Beranda / Berita / Dunia / Netanyahu Tertekan Usai AS-Iran Berdamai, Tujuan Perang Israel Dipertanyakan

Netanyahu Tertekan Usai AS-Iran Berdamai, Tujuan Perang Israel Dipertanyakan

Jum`at, 19 Juni 2026 22:30 WIB

Font: Ukuran: - +


Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Foto: Emmanuel Dunand/AFP


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menghadapi tekanan politik di dalam negeri setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kerangka kesepahaman awal untuk meredakan konflik dan membuka jalan perundingan lanjutan.

Kesepakatan tersebut memicu kekecewaan dari sejumlah kalangan di Israel, termasuk oposisi dan sebagian sekutu politik Netanyahu. Mereka menilai perang yang didorong Israel belum sepenuhnya mencapai tujuan strategis sebagaimana dijanjikan sejak awal.

Dilansir Financial Times, kritik terhadap Netanyahu menguat karena sejumlah target utama Israel terhadap Iran dinilai belum tercapai. Israel sebelumnya mendorong keterlibatan Amerika Serikat dengan harapan serangan gabungan Tel Aviv-Washington dapat melemahkan, bahkan mengguncang kepemimpinan Teheran.

Namun, perkembangan di lapangan menunjukkan hasil berbeda. Kepemimpinan Iran tetap berlanjut setelah Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas dalam serangan. Posisi kepemimpinan kemudian diteruskan oleh putranya, Mojtaba Hosseini Khamenei.

Selain itu, program rudal balistik Iran yang selama ini dianggap Israel sebagai ancaman besar juga tidak menjadi bagian utama dalam kerangka kesepahaman AS-Iran. Kesepakatan tersebut lebih berfokus pada isu nuklir, sementara persoalan rudal balistik dan jaringan proksi Iran di Timur Tengah tidak menjadi agenda utama dalam dokumen awal.

Bagi para pengkritik Netanyahu, kondisi ini memperlihatkan kegagalan Israel dalam mengarahkan hasil akhir konflik sesuai kepentingannya. Israel dinilai gagal memastikan agar kesepakatan AS-Iran turut mencakup pembatasan kemampuan rudal serta pengaruh Iran melalui kelompok-kelompok sekutunya di kawasan.

Netanyahu sendiri baru memberikan pernyataan setelah kesepakatan awal itu menjadi perhatian luas. Ia berupaya meyakinkan publik Israel bahwa operasi militer terhadap Iran tetap membawa hasil penting bagi keamanan negaranya.

“Dia presiden Amerika Serikat. Saya perdana menteri Israel. Seringkali kami memiliki pandangan yang sama, tetapi ada juga saat-saat di mana kami memiliki pandangan berbeda. Saya bertanggung jawab atas kepentingan keamanan Israel dan menjunjung tinggi hal tersebut,” kata Netanyahu.

Dalam pernyataan itu, Netanyahu juga terlihat berhati-hati agar tidak menyerang langsung keputusan Presiden AS Donald Trump. Ia menegaskan bahwa kesepakatan dengan Iran merupakan keputusan Washington.

“Kesepakatan ini dilakukan oleh presiden Amerika Serikat. Itu keputusannya dan dia yang memimpinnya. Saya menyampaikan pendapat saya dalam percakapan kami,” ujar Netanyahu.

Sikap Netanyahu tersebut tidak meredam kritik di Israel. Kolumnis senior Israel, Nahum Barnea, dalam tulisannya di Yedioth Ahronoth, mempertanyakan kemampuan Netanyahu memengaruhi Trump sebelum kesepakatan diteken. Ia juga menyoroti masa depan kebebasan operasi militer Israel setelah kerangka kesepahaman AS-Iran berjalan.

“Dia adalah pelayan yang pura-pura memberontak. Pemberontakan ini tidak akan berhasil,” tulis Barnea.

Pemimpin oposisi Israel, Yair Lapid, juga melontarkan kritik keras. Melalui media sosial X, Lapid menilai Netanyahu terlalu berlebihan dalam mengklaim keberhasilan Israel mengubah peta politik Timur Tengah.

“Netanyahu terus mengatakan kepada semua orang: ‘Kita sudah mengubah Timur Tengah.’ Masalahnya adalah, karena kelalaian, kesombongan, ketiadaan tim profesional yang memadai, dan penilaian yang dipengaruhi oleh hal-hal lain, ia justru mengubahnya menjadi lebih buruk,” kata Lapid.

Sementara itu, nota kesepahaman AS-Iran disebut memuat 14 poin dan akan dibahas lebih lanjut dalam periode negosiasi sekitar 60 hari sebelum diarahkan menjadi perjanjian final. Sejumlah pihak menilai kerangka awal tersebut memberi ruang lebih besar bagi Iran, terutama karena isu rudal balistik dan kelompok proksi tidak masuk sebagai fokus utama.

Menurut laporan CNN yang mengutip seorang pejabat Israel, Netanyahu disebut berupaya diam-diam memengaruhi arah kesepakatan tersebut sebelum final. Upaya itu disebut dilakukan melalui media sayap kanan serta sejumlah senator Amerika Serikat yang memiliki kedekatan politik dengannya.

Tujuannya, menurut laporan tersebut, untuk menekan Trump agar kembali mempertimbangkan kepentingan Israel dalam pembahasan teknis kesepakatan AS-Iran.

Hingga kini, Kantor Netanyahu belum memberikan komentar resmi terkait laporan tersebut. Namun, tekanan politik terhadap Netanyahu diperkirakan belum akan mereda, terutama jika kesepakatan AS-Iran terus berjalan tanpa mengakomodasi agenda keamanan utama Israel.

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI
dishes