Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Berita / Dunia / Panik BBM! Warga Afrika Selatan Antre Panjang, SPBU Kehabisan Stok

Panik BBM! Warga Afrika Selatan Antre Panjang, SPBU Kehabisan Stok

Rabu, 01 April 2026 18:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Warga mengantre untuk membeli bahan bakar di sebuah SPBU di Johannesburg, Afrika Selatan, Selasa (31/3/2026). [Foto: Themba Hadebe/AP]


DIALEKSIS.COM | Johannesburg - Lonjakan harga bahan bakar memicu kepanikan di Afrika Selatan. Pada Selasa (31/3/2026), warga berbondong-bondong mendatangi stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) untuk mengamankan pasokan sebelum harga baru berlaku tengah malam.

Fenomena ini terjadi di tengah gejolak pasar energi global akibat konflik di Timur Tengah yang turut menekan harga minyak dunia. Situasi tersebut berdampak langsung pada harga bahan bakar domestik di negara tersebut.

Menteri Keuangan Enoch Godongwana sempat mengumumkan penurunan pungutan bahan bakar sebesar 3 rand per liter sebagai langkah meredam tekanan harga. Namun kebijakan itu belum mampu menahan lonjakan signifikan, terutama pada solar.

Harga solar tercatat naik hingga 7,51 rand per liter -- kenaikan tertinggi dalam sejarah -- sementara bensin meningkat sebesar 3,06 rand per liter. Kondisi ini memicu lonjakan permintaan secara mendadak.

Di sejumlah wilayah, termasuk kawasan timur Johannesburg, beberapa SPBU dilaporkan kehabisan stok baik solar maupun bensin pada Selasa malam. Sejumlah pengendara bahkan ditolak karena persediaan habis, sementara antrean terus mengular di SPBU yang masih memiliki stok.

Tidak hanya itu, beberapa SPBU mulai menerapkan pembatasan pembelian bahan bakar, berkisar antara 30 hingga 50 liter per kendaraan, guna mengendalikan distribusi yang semakin tertekan.

Pemerintah mengakui bahwa konflik yang berlangsung di Timur Tengah meningkatkan risiko terhadap pasar energi global dan turut mendorong kenaikan harga domestik.

Kebijakan penurunan pungutan bahan bakar untuk April diperkirakan akan mengurangi penerimaan negara hingga sekitar 6 miliar rand. Meski demikian, langkah tersebut dinilai belum cukup untuk menahan dampak kenaikan harga yang lebih luas.

Peneliti ekonomi dari Solidarity Research Institute, Theuns du Buisson, menilai lonjakan harga, khususnya pada solar, akan berdampak besar terhadap biaya logistik dan transportasi. Dampaknya diperkirakan akan merambat pada kenaikan inflasi dalam beberapa bulan ke depan.

Ia juga menyoroti bahwa kelompok masyarakat berpenghasilan rendah akan menjadi yang paling terdampak, mengingat mayoritas warga bergantung pada transportasi umum seperti bus dan taksi minibus.

Di ibu kota Pretoria, layanan bus dilaporkan terganggu akibat keterbatasan pasokan bahan bakar di depo, menambah tekanan pada mobilitas masyarakat. [mm/mg/AP]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI