DIALEKSIS.COM | Moskow - Presiden Rusia Vladimir Putin menegaskan perang di Ukraina akan terus berlanjut meski negaranya tengah menghadapi krisis bahan bakar akibat serangan drone Ukraina terhadap kilang minyak dan fasilitas energi.
Dalam pernyataannya, Putin mengakui Rusia sedang melalui "masa sulit", tetapi menilai dampak serangan tersebut belum bersifat kritis. Pemerintah Rusia, kata dia, akan mempercepat perbaikan kilang yang rusak, meningkatkan produksi sistem pertahanan udara, serta membuka opsi impor bensin untuk menutup kekurangan pasokan.
Sejak Maret, Ukraina dilaporkan telah melancarkan lebih dari 50 serangan ke fasilitas energi Rusia dan Krimea. Menurut sejumlah analis, sekitar sepertiga kapasitas penyulingan minyak Rusia kini terganggu sehingga produksi bensin turun sekitar 17%.
Akibatnya, sejumlah wilayah mulai menerapkan penjatahan bahan bakar, sementara antrean panjang terjadi di SPBU. Kondisi terparah dilaporkan terjadi di Krimea, di mana penjualan bensin kepada masyarakat dihentikan sementara.
Meski demikian, Putin menegaskan serangan tersebut tidak akan mengubah strategi Moskow. Ia kembali menolak usulan gencatan senjata yang diajukan Ukraina dan negara-negara Barat karena dinilai hanya akan memberi waktu bagi Kyiv untuk memperkuat militernya.
Putin juga mempertahankan syarat utama bagi tercapainya perdamaian, yakni Ukraina harus menarik pasukannya dari wilayah yang diklaim Rusia, menghentikan upaya bergabung dengan NATO, serta menerima sejumlah tuntutan keamanan dari Moskow.
Di sisi lain, Rusia kembali melancarkan serangan besar ke Kyiv yang menewaskan sedikitnya 21 orang. Sementara itu, data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat lebih dari 16.000 warga sipil Ukraina telah menjadi korban jiwa sejak perang pecah. [AP/abc news]
