DIALEKSIS.COM | Paris - Prancis dilanda gelombang panas ekstrem di awal musim panas. Negara itu mencatat salah satu periode terpanas sepanjang sejarah setelah suhu udara menembus rekor pada Senin (22/6/2026) hingga Selasa (23/6/2026).
Jutaan warga Prancis dilaporkan terbangun pada Selasa pagi dalam kondisi tidak nyaman akibat panas ekstrem yang bertahan sepanjang malam. Sebagian besar wilayah negara itu terpapar suhu tinggi, bahkan pada saat malam hari yang biasanya menjadi waktu tubuh beristirahat dari panas siang.
Badan prakiraan cuaca nasional Prancis, Météo-France, menyebut sinar matahari masih mendominasi hampir seluruh wilayah negara tersebut. Kondisi itu membuat panas terasa semakin menyengat dan melelahkan.
“Sinar matahari terus mendominasi di seluruh Prancis, mempertahankan panas yang menyengat dan melelahkan di seluruh negeri,” demikian pernyataan Météo-France.
Météo-France memperkirakan suhu tinggi masih akan bertahan setidaknya hingga akhir pekan. Di sejumlah kota, suhu pada siang hari diprediksi dapat mencapai 40 derajat Celsius atau lebih.
Badan cuaca itu juga mengingatkan bahwa rekor suhu baru masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan. Bahkan, sejumlah wilayah diperkirakan dapat melampaui rekor panas sebelumnya.
“Suhu yang memecahkan rekor lebih lanjut diperkirakan akan terjadi, termasuk beberapa yang bisa melampaui semua rekor sebelumnya,” demikian pernyataan Météo-France.
Perdana Menteri Prancis Sébastien Lecornu menyampaikan, sedikitnya 40 orang meninggal dunia sejak 18 Juni di tengah gelombang panas tersebut. Banyak korban dilaporkan meninggal akibat tenggelam ketika berupaya mencari tempat untuk mendinginkan tubuh, termasuk berenang di area yang tidak diawasi.
Gelombang panas kali ini terjadi pada awal musim panas. Pemerintah dan otoritas cuaca Prancis belum dapat memastikan secara pasti sampai kapan kondisi ekstrem tersebut akan berlangsung.
Situasi ini mengingatkan publik pada gelombang panas besar yang melanda Prancis pada Agustus 2003. Saat itu, sekitar 15.000 orang meninggal dunia, sebagian besar merupakan kelompok lanjut usia yang tinggal tanpa pendingin udara.
Prancis termasuk negara yang tidak menggunakan pendingin udara secara luas di rumah-rumah warga. Karena itu, suhu ekstrem berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Sejumlah sekolah ditutup, acara publik dibatalkan, dan layanan transportasi, termasuk kereta api, mengalami gangguan.
Pemerintah Prancis sebelumnya telah memperkenalkan sistem peringatan siaga panas setelah pengalaman buruk gelombang panas 2003. Sistem ini digunakan untuk memperingatkan warga, pemerintah daerah, rumah sakit, sekolah, dan layanan publik agar bersiap menghadapi risiko kesehatan akibat suhu ekstrem.
Dalam gelombang panas kali ini, sedikitnya 54 departemen di Prancis telah masuk dalam status peringatan merah. Jumlah itu setara dengan sekitar separuh wilayah Prancis.
Fenomena panas ekstrem di Prancis juga menjadi bagian dari tren pemanasan yang lebih luas di Eropa. Layanan Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa mencatat, Eropa merupakan benua dengan pemanasan tercepat di dunia. Suhu di kawasan itu meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan rata-rata global sejak dekade 1980-an.
Dalam empat tahun terakhir, lebih dari 200.000 orang di Eropa dilaporkan meninggal akibat penyebab yang berkaitan dengan panas. Kondisi ini membuat gelombang panas tidak lagi sekadar persoalan cuaca, melainkan ancaman serius bagi kesehatan publik, layanan kota, dan kesiapan negara menghadapi perubahan iklim.
Pemerintah Prancis mengimbau warga, terutama anak-anak, lansia, pekerja luar ruangan, dan kelompok rentan, untuk mengurangi aktivitas di luar rumah saat suhu mencapai puncak, memperbanyak minum air, serta menghindari berenang di lokasi yang tidak aman atau tidak diawasi.
