Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Ekonomi / Aceh Punya Potensi Besar Kembangkan Industri Ayam Pedaging dan Petelur

Aceh Punya Potensi Besar Kembangkan Industri Ayam Pedaging dan Petelur

Minggu, 25 Januari 2026 21:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Naufal Habibi

Peternak ayam sedang memanen telur ayam di kandang miliknya di Lam Ateuk, Kabupaten Aceh Besar. Foto: Naufal Habibi/dialeksis.com.


DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Provinsi Aceh dinilai memiliki potensi sangat besar untuk mengembangkan industri ayam pedaging dan ayam petelur secara mandiri dan berkelanjutan. 

Ketersediaan lahan yang masih luas, sumber pakan lokal yang melimpah, serta kebutuhan pasar yang besar menjadi modal utama Aceh untuk keluar dari ketergantungan pasokan ayam dan telur dari provinsi lain, khususnya Sumatera Utara.

Peternak ayam petelur asal Aceh, Akbar, mengatakan hampir seluruh wilayah Aceh sebenarnya sangat layak untuk pengembangan peternakan unggas, baik skala kecil, menengah, maupun industri besar.

“Aceh ini punya potensi luar biasa. Lahan kosong masih banyak di hampir seluruh kabupaten/kota. Untuk pakan juga kita sangat kaya, mulai dari jagung, tanaman konsentrat, sampai ikan dan hasil laut yang bisa dijadikan sumber protein tambahan bagi pakan ayam,” kata Akbar saat ditemui di kandangnya di Lam Ateuk, Aceh Besar, Minggu, 25 Januari 2026.

Menurut Akbar, jika potensi tersebut dikelola secara terencana dan terintegrasi, Aceh tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan ayam dan telur sendiri, tetapi juga berpeluang menjadi daerah pemasok bagi provinsi lain di masa depan.

Namun hingga saat ini, Aceh masih sangat bergantung pada pasokan ayam dan telur dari luar daerah. Ketergantungan ini, kata Akbar, sangat terasa dampaknya ketika terjadi bencana alam atau gangguan distribusi.

“Kita berharap jangan ada lagi ketergantungan dengan provinsi lain. Saat bencana, dampaknya sangat terasa. Pasokan terganggu, harga ayam dan telur melonjak tinggi. Ini bukti bahwa kita belum mandiri pangan, padahal potensinya ada,” ujarnya.

Akbar menambahkan, kondisi tersebut membuat harga ayam dan telur di Aceh menjadi relatif mahal, terutama ketika jalur distribusi dari luar provinsi terhambat dan pasokan tidak bisa masuk secara normal.

Sejalan dengan itu, dikutip media dialeksis.com dari Aceh Trend, Kepala Perwakilan Kementerian Keuangan Provinsi Aceh, Safuadi ST, mengungkapkan bahwa besarnya ketergantungan Aceh terhadap pasokan ayam dan telur dari Sumatera Utara juga berdampak pada kebocoran ekonomi daerah.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan sejumlah tim, belanja masyarakat Aceh untuk telur ayam dan ayam potong ke Sumatera Utara diperkirakan mencapai Rp2,6 triliun per tahun.

“Itu merupakan peluang usaha bagi dunia usaha di Aceh yang sangat besar. Tapi pertanyaannya, kenapa potensi pasar sebesar ini belum digarap secara massal dan terintegrasi oleh dunia usaha, kelompok tani, dan UMKM yang ada di Aceh,” kata Safuadi.

Safuadi memaparkan, dari sekitar 5,4 juta penduduk Aceh, kebutuhan telur per hari berkisar 1,3 hingga 1,5 juta butir. Namun, produksi telur ayam ras yang dihasilkan peternak lokal saat ini diperkirakan baru sekitar 100.000 butir per hari.

“Artinya, peternak lokal baru mampu memenuhi sekitar 7,7 persen dari kebutuhan harian telur ayam ras di Aceh. Sisanya, sekitar 92,3 persen, masih dipasok dari Sumatera Utara,” tuturnya.

Kondisi serupa juga terjadi pada sektor ayam pedaging. Safuadi menyebutkan, nilai belanja ayam potong masyarakat Aceh ke Sumatera Utara diperkirakan mencapai Rp1,89 triliun per tahun, sementara belanja telur ayam mencapai sekitar Rp788,4 miliar. Jika digabungkan, total belanja masyarakat Aceh untuk ayam dan telur ke luar daerah mencapai sekitar Rp2,6 triliun per tahun.

“Angka ini menunjukkan peluang ekonomi yang sangat besar jika bisa dikelola di dalam Aceh sendiri. Selain menciptakan lapangan kerja, juga akan memperkuat ketahanan pangan daerah,” jelasnya.


Sementara itu, Distributor ayam asal Aceh, Muhammad Yanis, mengatakan bahwa kondisi bencana alam, terutama banjir, semakin memperlihatkan rapuhnya sistem pasokan ayam dan telur di Aceh.

“Ketika banjir terjadi, pasokan ayam dari luar daerah terganggu, ongkos distribusi naik, banyak kandang terdampak, dan harga di pasar langsung melonjak,” kata Yanis.

Ia menyebutkan, banjir juga berdampak pada peternak lokal, mulai dari keterbatasan pakan, gangguan listrik, hingga tingginya angka kematian ayam. Kondisi tersebut membuat produksi menurun sementara permintaan tetap tinggi.

“Kalau Aceh sudah mandiri, dampak bencana bisa lebih kita kendalikan. Pasokan tidak sepenuhnya tergantung dari luar. Ini penting untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan,” ujarnya.

Yanis berharap pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya dapat lebih serius mendorong pengembangan industri peternakan unggas di Aceh, mulai dari hulu hingga hilir, agar potensi besar yang dimiliki Aceh tidak terus menjadi peluang yang terlewatkan. [nh]

Keyword:


Editor :
Alfi Nora

riset-JSI