DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Yayasan Aneuk Muda Aceh Unggul dan Hebat (AMANAH) resmi melakukan peluncuran kembali (relaunching) pada Kamis (23/4/2026). Momentum ini menjadi titik konsolidasi besar untuk mendorong hilirisasi, inovasi, dan kebangkitan UMKM pemuda di Aceh.
Ketua Yayasan AMANAH, Syaifullah Muhammad, menegaskan bahwa kehadiran AMANAH merupakan jawaban atas kebutuhan nyata generasi muda, mulai dari peningkatan kapasitas hingga akses terhadap teknologi dan pasar.
“AMANAH ini sudah kita inisiasi sejak 2022. Berangkat dari diskusi panjang dengan pemerintah Aceh dan berbagai pihak di pusat, kita melihat ada kebutuhan besar untuk membangun ekosistem ekonomi anak muda yang lebih kuat dan terintegrasi,” ujar Syaifullah dalam konferensi pers.
Ia menekankan bahwa relaunching ini menjadi fase baru dalam perjalanan AMANAH, setelah sebelumnya fasilitas tersebut diresmikan oleh Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, pada 2024. Kini, AMANAH bergerak mengikuti arah pembangunan nasional dengan semangat baru.
“Kita membawa semangat ‘Respawn and Rise’ -- bagaimana AMANAH ini bangkit dan berkembang, menyesuaikan dengan arah pembangunan nasional di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto,” jelasnya.
Syaifullah menggambarkan AMANAH bukan sekadar lembaga, tetapi ekosistem terpadu yang dirancang untuk mendukung pengembangan ekonomi kreatif dan UMKM secara menyeluruh.
“Ini bukan hanya tempat pelatihan. Kita bangun ekosistem dari hulu ke hilir. Dari produksi, pengolahan, sampai pemasaran, semua kita siapkan di sini,” katanya.
Di atas lahan sekitar lima hektare di kawasan industri Aceh, AMANAH menghadirkan berbagai fasilitas. Mulai dari greenhouse untuk budidaya melon dan anggur, hingga sistem bioflok untuk perikanan.
“Kita sudah punya greenhouse, kita kembangkan melon, anggur, kemudian bioflok untuk ikan. Bahkan sekarang sudah ada puluhan ekor sapi untuk mendukung sektor pangan,” ungkapnya.
Tak hanya itu, inovasi teknologi juga menjadi bagian penting dari pengembangan AMANAH.
“Kita siapkan bengkel konversi motor listrik, kita dorong penggunaan energi terbarukan seperti panel surya, dan semua ini kita buka untuk kolaborasi, termasuk dengan investor,” tambah Syaifullah.
Salah satu terobosan penting AMANAH adalah kehadiran fasilitas penyulingan nilam lengkap dengan laboratorium berstandar tinggi.
“Sekarang kita punya alat GCMS yang bisa menguji kualitas minyak nilam sesuai standar buyer internasional. Kalau dulu harus kirim ke luar negeri dan tunggu dua minggu, sekarang cukup satu hari sudah keluar hasilnya,” jelasnya.
Ia menilai, kehadiran fasilitas ini akan mempercepat perputaran ekonomi masyarakat, khususnya petani nilam.
“Begitu hasil uji keluar, produk bisa langsung dibayar. Ini mempercepat cashflow masyarakat dan meningkatkan kepercayaan pasar,” ujarnya.
Menurut Syaifullah, persoalan utama UMKM di Aceh selama ini terletak pada kualitas sumber daya manusia dan keterbatasan fasilitas produksi.
“Selama ini UMKM kita terkendala di SDM dan fasilitas. Banyak yang punya produk bagus, tapi tidak punya tempat produksi yang sesuai standar,” katanya.
Untuk itu, AMANAH menghadirkan berbagai fasilitas pendukung, mulai dari pelatihan hingga rumah produksi berstandar.
“Kita siapkan rumah kemasan, studio fotografi, sampai rumah produksi kosmetik dan parfum. Ini untuk memastikan produk UMKM kita bisa naik kelas,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya legalitas produk, khususnya di sektor kosmetik. “Banyak UMKM tidak bisa dapat izin BPOM karena tidak punya fasilitas produksi standar. Bangun sendiri bisa sampai Rp500 juta. Di AMANAH, kita siapkan itu,” jelasnya.
Dengan skema kerja sama seperti maklon dan white label, pelaku usaha kini memiliki peluang lebih besar untuk berkembang.
“UMKM bisa produksi secara legal, kualitas terjaga, dan siap masuk pasar yang lebih luas,” ujarnya.
Lebih jauh, AMANAH dirancang sebagai pusat kreativitas sekaligus magnet bagi investor. “Kita ingin ini menjadi creative hub dan business center. Ada studio podcast, studio musik, ruang kreatif, perpustakaan, dan co-working space,” kata Syaifullah.
Ia menambahkan, kawasan ini juga disiapkan untuk mendukung kebutuhan investor yang ingin masuk ke Aceh. “Kalau investor datang, mereka bisa gunakan fasilitas di sini. Mulai dari ruang rapat, tempat produksi, sampai penginapan, semua sudah kita siapkan,” jelasnya.
Syaifullah menegaskan bahwa arah utama AMANAH adalah mendorong hilirisasi dan peningkatan nilai tambah produk lokal. “Kita tidak ingin hanya menjual bahan mentah. Kita ingin produk Aceh diolah menjadi produk jadi yang punya nilai tinggi,” tegasnya.
Ia mencontohkan pada pengolahan minyak nilam yang membutuhkan proses khusus. “Minyak nilam tidak bisa langsung dijadikan parfum. Harus melalui proses purifikasi. Kalau tidak, kandungan zat besinya bisa berbahaya. Di sinilah pentingnya transfer teknologi,” tutupnya. [nh]