DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Aset Bank Mustaqim Aceh mencapai Rp260,8 miliar hingga akhir kuartal III 2026. Berdasarkan ringkasan kinerja yang diperoleh Dialeksis, angka tersebut tumbuh 11,10 persen dibandingkan posisi akhir September 2025.
Pertumbuhan aset PT Bank Perekonomian Rakyat Syariah Mustaqim Aceh berjalan seiring dengan kenaikan pembiayaan dan penghimpunan dana masyarakat. Per 30 September 2026, saldo pembiayaan bank milik Pemerintah Aceh itu mencapai Rp191,8 miliar, meningkat 14 persen secara tahunan.
Penghimpunan dana pihak ketiga atau DPK tumbuh lebih cepat. Nilainya mencapai Rp140 miliar, naik 21 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. DPK menjadi indikator dengan pertumbuhan tertinggi di antara aset, pembiayaan, penghimpunan dana, dan laba yang disampaikan perseroan.
Pemerintah Aceh, selaku pemegang saham pengendali, mengapresiasi capaian tersebut. Pemerintah menilai pertumbuhan Bank Mustaqim mendukung perannya dalam menggerakkan sektor riil dan memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan syariah.
“Pemerintah Aceh mengapresiasi kerja jajaran manajemen dan seluruh pegawai Bank Mustaqim. Pertumbuhan aset, pembiayaan, serta dana masyarakat menjadi capaian positif yang perlu dijaga melalui pengelolaan bank yang profesional dan akuntabel,” ujar Taufik Pj Sekda Aceh, saat diminta tanggapan Dialeksis, 22 Oktober 2026.
“Kami ingin pertumbuhan ini semakin terasa manfaatnya bagi masyarakat. Bank Mustaqim diharapkan terus memperluas pembiayaan produktif, terutama untuk membantu usaha mikro dan kecil memperoleh modal, meningkatkan kapasitas usaha, serta membuka peluang ekonomi di daerah,” lanjut berkomentar.
Hal lain disampaikan Taufik,“ekspansi usaha harus berjalan bersama prinsip kehati-hatian. Kepercayaan masyarakat perlu dijaga melalui pelayanan yang baik, kepatuhan terhadap prinsip syariah, dan pengawasan pembiayaan yang konsisten. Dengan fondasi tersebut, Bank Mustaqim dapat terus tumbuh bersama perekonomian Aceh.”
Pertumbuhan aset memperlihatkan bertambahnya skala usaha perseroan. Saldo pembiayaan setara dengan sekitar 73,5 persen dari total aset, berdasarkan perbandingan kedua angka tersebut. Besarnya porsi ini menempatkan kualitas pembiayaan sebagai salah satu penentu penting keberlanjutan bisnis bank.
Bank yang dipimpin Direktur Utama Raisul Mukhlis itu didukung jaringan 15 kantor cabang dan tujuh kantor kas. Jaringan tersebut menjadi modal untuk menjangkau nasabah serta memperluas pelayanan pembiayaan dan penghimpunan simpanan di daerah.
Bagi pelaku usaha kecil, kedekatan layanan perbankan dapat membantu memenuhi kebutuhan modal kerja. Pembiayaan dapat digunakan untuk menambah persediaan barang, membeli bahan baku, atau membiayai kegiatan produksi. Perluasan akses tersebut dapat mendukung pengembangan usaha masyarakat.
Fokus pada usaha kecil juga pernah disampaikan Raisul dalam pemberitaan Dialeksis pada 24 Mei 2026. Saat itu, ia menyebut sekitar 87 persen dari total pembiayaan Bank Mustaqim merupakan pembiayaan modal kerja kepada sektor UMKM. Ia menekankan pentingnya manfaat pembiayaan bagi penguatan ekonomi masyarakat.
Dari sisi profitabilitas, Bank Mustaqim membukukan laba Rp3,2 miliar hingga akhir September 2026, tumbuh 9 persen secara tahunan. Kenaikan aset dan pembiayaan dengan demikian diikuti pertumbuhan laba, meski lajunya lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pembiayaan maupun DPK.
Pengelolaan biaya dan kualitas pendapatan tetap menjadi bagian penting dalam menjaga hasil ekspansi tersebut. Dalam bisnis perbankan, pertumbuhan pembiayaan perlu disertai pengelolaan biaya dana, biaya operasional, dan pencadangan risiko agar menghasilkan keuntungan yang berkelanjutan.
Sementara itu, rasio pembiayaan bermasalah atau non-performing financing (NPF) tercatat sebesar 4 persen. Dalam ringkasan kinerja yang disampaikan, rasio tersebut disebut membaik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Perbaikan rasio NPF di tengah kenaikan saldo pembiayaan menjadi perkembangan positif. Kualitas portofolio tetap perlu dijaga melalui penilaian kemampuan bayar nasabah dan pemantauan setelah pembiayaan dicairkan.
Peran bank seperti Mustaqim berkaitan dengan agenda penguatan pembiayaan usaha kecil. Dalam siaran pers 2 Juni 2026, Otoritas Jasa Keuangan menyebut BPR dan BPRS memiliki kedekatan secara geografis dan kultural dengan pelaku usaha mikro dan kecil. Secara nasional, porsi pembiayaan UMKM mencapai 50,07 persen dari total kredit dan pembiayaan industri BPR dan BPRS pada Maret 2026.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyoroti persaingan yang semakin ketat pada segmen mikro dan kecil, disertai potensi peningkatan risiko pembiayaan. Perubahan teknologi juga memengaruhi kebutuhan dan harapan masyarakat terhadap layanan bank. OJK menekankan penguatan tata kelola, pemantauan pembiayaan, dan pencadangan kerugian sebagai bagian dari mitigasi risiko.
Memasuki kuartal terakhir 2026, manajemen Bank Mustaqim optimistis dapat menjaga kinerja positif hingga akhir tahun. Pembiayaan produktif, penghimpunan dana masyarakat, dan kualitas aset menjadi bagian penting dari upaya memperkuat kontribusi bank terhadap perekonomian Aceh.