Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Ekonomi / Dolar Melemah, Kenapa Rupiah Masih Tertekan? Ini Kata BI

Dolar Melemah, Kenapa Rupiah Masih Tertekan? Ini Kata BI

Jum`at, 16 Januari 2026 22:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Ratnalia

Bank Indonesia (BI). [Foto: net]


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Bank Indonesia (BI) menyampaikan perkembangan terkini stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah dinamika perekonomian global dan domestik. Pada perdagangan Rabu (14/1/2026), Rupiah ditutup melemah tipis, sementara tekanan dari pasar keuangan global masih terasa.

Berdasarkan data BI, Rupiah ditutup pada level Rp16.855 per dolar AS (bid). Di sisi lain, yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik ke level 6,21%, seiring meningkatnya kehati-hatian investor.

Sementara itu, kondisi global menunjukkan sinyal yang relatif kondusif. Indeks dolar AS (DXY) tercatat melemah ke level 99,06, diikuti dengan penurunan yield US Treasury (UST) Note tenor 10 tahun ke 4,132%.

Memasuki perdagangan Kamis pagi (15/1/2026), Rupiah dibuka sedikit menguat di level Rp16.840 per dolar AS, meski yield SBN 10 tahun kembali naik ke 6,23%.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyampaikan bahwa Bank Indonesia terus mencermati pergerakan pasar keuangan, khususnya arus modal asing.

“Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia,” ujar Ramdan dalam keterangan resmi, Jumat (16/1/2026).

Dari sisi risiko negara, premi Credit Default Swap (CDS) Indonesia tenor 5 tahun per 14 Januari 2026 tercatat sebesar 71,43 basis poin (bps), meningkat dibandingkan posisi 9 Januari 2026 yang sebesar 69,31 bps.

Adapun berdasarkan data transaksi periode 12“14 Januari 2026, investor nonresiden tercatat melakukan jual neto sebesar Rp7,71 triliun. Aksi tersebut berasal dari jual neto Rp8,15 triliun di pasar SBN dan Rp2,64 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), meski terdapat beli neto Rp3,08 triliun di pasar saham.

Secara kumulatif sepanjang tahun 2026 hingga 14 Januari, nonresiden membukukan beli neto Rp5,33 triliun di SRBI dan Rp6,16 triliun di pasar saham, namun masih mencatat jual neto Rp9,91 triliun di pasar SBN.

BI menegaskan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan ketahanan eksternal, seiring meningkatnya ketidakpastian global. [ra]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI