Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Ekonomi / El Nino ‘Godzilla’ Mengintai, Stok Pangan Nasional Aman? Ini Data Terbarunya

El Nino ‘Godzilla’ Mengintai, Stok Pangan Nasional Aman? Ini Data Terbarunya

Jum`at, 27 Maret 2026 15:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Ilustrasi. Fenomena 'Godzilla' El Nino diprediksi akan membuat cuaca Indonesia semakin panas dan musim kemarau lebih panjang. [Foto: Arsip BMKG]


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Pemerintah mulai bersiap menghadapi potensi kemarau panjang akibat fenomena iklim ekstrem yang diprediksi terjadi dalam waktu dekat. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkirakan fenomena El Nino kuat atau yang kerap disebut “Godzilla El Nino” akan muncul bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif mulai April 2026.

Kondisi tersebut berpotensi membuat musim kemarau di Indonesia menjadi lebih panjang dan kering. Dampaknya bisa menjalar ke sektor pangan, terutama pada produksi pertanian yang sangat bergantung pada curah hujan.

Merespons potensi tersebut, pemerintah memastikan ketahanan stok Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) terus diperkuat. Langkah ini dilakukan agar intervensi bisa segera dijalankan jika terjadi gangguan pasokan akibat anomali cuaca.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa, menyebut pemerintah telah mengantisipasi risiko tersebut dengan memperkuat cadangan, terutama dari produksi dalam negeri.

Per 25 Maret 2026, stok pangan strategis yang dikelola BUMN pangan seperti Perum Bulog dan ID FOOD terpantau dalam kondisi aman. Komoditas beras masih menjadi penopang utama dengan jumlah cadangan terbesar.

Stok beras yang tersimpan di Bulog tercatat mencapai 4,08 juta ton. Angka ini melonjak sekitar 77,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 2,29 juta ton. Mayoritas pasokan berasal dari hasil serapan produksi dalam negeri yang sejak awal tahun telah mencapai 1,24 juta ton setara beras.

Selain beras, pemerintah juga menjaga stok komoditas lain seperti jagung, minyak goreng, gula, hingga protein hewani. Stok jagung saat ini berada di kisaran 144 ribu ton, dengan penyerapan domestik mencapai lebih dari 100 ribu ton sepanjang 2026.

Untuk komoditas lain, minyak goreng tercatat sekitar 95 ribu kiloliter, gula konsumsi 50 ribu ton, serta daging sapi/kerbau 11 ribu ton. Sementara itu, stok daging ayam dan telur ayam juga tetap dijaga untuk mendukung stabilitas pasokan.

Pemerintah menegaskan penguatan cadangan pangan ini sejalan dengan upaya menjaga kemandirian pangan nasional di tengah ancaman krisis global. Produksi dalam negeri menjadi kunci agar Indonesia tidak bergantung pada impor saat terjadi gejolak.

Di sisi lain, distribusi bantuan pangan juga terus berjalan. Hingga akhir Maret, penyaluran bantuan beras dan minyak goreng telah menjangkau ratusan ribu penerima di puluhan provinsi. Selain itu, program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta Gerakan Pangan Murah (GPM) terus digencarkan.

Meski demikian, BRIN mengingatkan dampak fenomena El Nino tidak akan merata di seluruh wilayah. Wilayah selatan Indonesia berpotensi mengalami kekeringan, sementara kawasan timur laut seperti Sulawesi dan Maluku justru bisa menghadapi risiko banjir.

Dengan kondisi ini, pemerintah diminta tetap waspada dan memperkuat langkah mitigasi agar ketahanan pangan nasional tetap terjaga di tengah ancaman iklim ekstrem. [*]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI