DIALEKSIS.COM | Jakarta - Pemerintah mulai bergerak untuk menahan penurunan harga ayam ras dan telur ayam ras di tingkat peternak yang kini berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP). Intervensi dilakukan dari hulu hingga hilir guna mencegah deflasi semakin dalam dan menjaga keberlangsungan usaha peternak.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) I Gusti Ketut Astawa mengatakan, kondisi harga saat ini sudah menekan peternak. Karena itu pemerintah bakal melakukan langkah stabilisasi agar harga kembali berada di level wajar.
"Kami akan lakukan intervensi justru terhadap rendahnya harga ayam ras tingkat peternak. Ini di bawah HAP sudah 8 persen. Kemudian telur ayam ras juga sudah 8 persen. Ini sudah berteriak teman-teman peternak," kata Ketut dalam keterangannya.
Berdasarkan pantauan harga hingga 17 Mei 2026, rata-rata harga ayam pedaging hidup secara nasional tercatat Rp 22.783 per kilogram (kg), atau 8,87% di bawah HAP yang ditetapkan Rp 25.000 per kg.
Sementara harga telur ayam ras berada di level Rp 24.356 per kg atau 8,09% di bawah HAP sebesar Rp 26.500 per kg.
Ketut menegaskan, pemerintah berupaya menjaga keseimbangan harga agar peternak tetap memperoleh keuntungan yang layak, namun harga di tingkat konsumen juga tidak melampaui Harga Acuan Penjualan (HAP).
Menurutnya, Bapanas bersama Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian akan segera mengambil langkah stabilisasi harga telur ayam ras di tingkat produsen. Salah satunya melalui kerja sama dengan Badan Gizi Nasional untuk menyerap langsung hasil produksi peternak.
"Jangan sampai harga sudah terlanjur di bawah, malah terjadi demo dan lain sebagainya," ujarnya.
Selain itu, pemerintah juga menggulirkan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan guna menekan biaya produksi peternak ayam.
Dalam skema tersebut, harga jagung pakan dipatok Rp 5.000 per kg di gudang Bulog dan maksimal Rp 5.500 per kg di tingkat peternak. Padahal harga jagung di pasaran saat ini berkisar Rp 6.700 per kg.
"Ini sangat berarti. Dengan bantuan SPHP jagung ini, mereka bisa menikmati keuntungan yang masih wajar," imbuh Ketut.
Penyaluran SPHP jagung dilakukan melalui koperasi atau asosiasi peternak yang telah terdaftar dalam SK Menteri Pertanian.
Hingga 17 Mei 2026, Perum Bulog telah menyalurkan SPHP jagung pakan sebanyak 5,97 ribu ton. Jawa Timur menjadi wilayah dengan penyaluran terbesar mencapai 4,39 ribu ton, disusul Jawa Tengah 1,14 ribu ton.
Sementara target penyaluran nasional program tersebut mencapai 213,2 ribu ton. Di sisi lain, stok Cadangan Jagung Pemerintah (CJP) per 18 Mei tercatat sebesar 234 ribu ton.
Bapanas juga memastikan Bulog terus melakukan penyerapan jagung produksi dalam negeri yang sejak awal 2026 hingga 18 Mei telah mencapai 194,2 ribu ton. [in]