Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Ekonomi / Hilirisasi Bambu Jadi Prioritas, Kemenperin Siapkan SDM dan Infrastruktur

Hilirisasi Bambu Jadi Prioritas, Kemenperin Siapkan SDM dan Infrastruktur

Sabtu, 03 Januari 2026 21:30 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Redaksi

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika mengungkapkan, peluang industri bambu nasional terbuka lebar, terutama di pasar ekspor. [Foto: dok. Kemenperin]


DIALEKSIS.COM | Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperkuat pengembangan ekosistem industri bambu nasional secara terintegrasi dari hulu hingga hilir. Langkah ini dinilai strategis untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi, memperkuat daya saing industri, serta mendukung penerapan ekonomi hijau dan sirkular.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan, Indonesia merupakan salah satu negara dengan sumber daya bambu terbesar di dunia. Terdapat lebih dari 125 jenis bambu yang tersebar di berbagai wilayah, menempatkan Indonesia di peringkat ketiga dunia sebagai negara dengan potensi bahan baku bambu terbesar. Namun, pemanfaatannya masih didominasi metode konvensional sehingga nilai tambahnya belum optimal.

Menurut Agus, bambu memiliki potensi besar sebagai bahan substitusi kayu, khususnya untuk industri konstruksi dan furnitur. Selain kuat dan lentur, bambu dinilai lebih tahan terhadap guncangan sehingga cocok digunakan di wilayah rawan gempa. Karena itu, Kemenperin mendorong penguatan industri hilir bambu untuk menghasilkan produk bernilai tambah tinggi, termasuk untuk sektor konstruksi dan pangan fungsional.

Pengembangan industri bambu juga telah menjadi program lintas kementerian melalui Peraturan Presiden tentang Strategi Nasional Bambu Terintegrasi Hulu-Hilir sejak 2022. Saat ini, Kemenperin tengah menyusun peta jalan pengembangan ekosistem industri bambu yang mencakup penguatan agroforestry, teknologi pascapanen, pembentukan sentra bambu, hingga pembangunan pusat logistik guna menjamin keberlanjutan pasokan bahan baku.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika mengungkapkan, peluang industri bambu nasional terbuka lebar, terutama di pasar ekspor. Ia mencatat permintaan global terhadap lantai kontainer berbahan bambu mencapai 1.500 meter kubik per bulan, sementara kapasitas produksi nasional baru sekitar 30 meter kubik per bulan.

Selain ekspor, permintaan domestik juga meningkat, khususnya untuk pembangunan kawasan pariwisata seperti Bali, Mandalika, Lombok, dan Labuan Bajo. Kemenperin pun menginisiasi Akademi Komunitas Bambu sebagai upaya menyiapkan sumber daya manusia terampil dan bersertifikat, sekaligus memperkuat ekosistem industri bambu agar mampu bersaing di pasar global. [red]

Keyword:


Editor :
Indri

riset-JSI