DIALEKSIS.COM | Jakarta - Harga beras dunia anjlok hingga 44% setelah Indonesia mencatatkan swasembada beras. Dari sebelumnya 660 dolar AS per ton, harga kini turun menjadi 368 dolar AS per ton. Keberhasilan ini sekaligus menandai Indonesia sebagai negara yang tidak lagi bergantung pada impor beras.
Kepala Badan Pangan Nasional sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman mengungkapkan keberhasilan ini tak lepas dari peran aktif kepala daerah dalam mengawal produksi dan distribusi pangan.
Keberhasilan Indonesia juga mengundang perhatian dunia. FAO memberikan apresiasi dua kali dalam dua tahun terakhir, sementara negara-negara maju seperti Jepang, Kanada, Chile, Belarus, Australia, dan Rusia datang langsung ke Indonesia untuk mempelajari kebijakan pangan yang diterapkan.
“Mereka datang untuk bertanya, apa yang membuat Indonesia bisa melompat menjadi nomor dua dunia,” ujar Amran dalam pernyataan resmi yang diterima pada Kamis (22/1/2026).
Berdasarkan laporan Food Outlook Juni 2025, Indonesia menempati posisi kedua dunia dalam peningkatan produksi beras, naik 4,5 persen selama dua tahun terakhir. Brasil berada di urutan pertama dengan peningkatan 14,7 persen. Produksi beras nasional pada 2025 mencapai 34,71 juta ton, melebihi kebutuhan konsumsi dalam negeri 31,19 juta ton atau 111,2 persen.
Capaian ini juga menempatkan stok beras di Perum Bulog pada level tertinggi sejak lembaga itu berdiri tahun 1969. Amran menegaskan, kondisi ini memperkuat posisi strategis Indonesia dalam peta pangan dunia.
“Indonesia tidak impor lagi. Ini kebanggaan kita semua,” katanya.
Amran menekankan bahwa swasembada pangan adalah fondasi kedaulatan bangsa. “Kalau dia memperhatikan sektor pertanian, berarti memperhatikan umat Indonesia,” pungkasnya, menyoroti pentingnya sektor ini bagi kehidupan ratusan juta masyarakat. [in]