DIALEKSIS.COM | Jakarta - Kementerian Perindustrian memastikan industri tekstil dan produk tekstil (TPT), pakaian jadi, hingga alas kaki dalam negeri siap memenuhi lonjakan permintaan masyarakat selama bulan Ramadan hingga Hari Raya Idulfitri.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, momentum Ramadan dan Lebaran setiap tahun selalu mendorong peningkatan konsumsi berbagai produk fesyen, seperti busana muslim, sarung, mukena, perlengkapan ibadah, serta alas kaki yang diproduksi industri nasional.
Menurutnya, kinerja sektor Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) yang terus menunjukkan tren positif menjadi modal penting bagi industri nasional untuk menjaga ketersediaan pasokan, kualitas produk, serta stabilitas harga di tengah meningkatnya permintaan masyarakat.
“Ramadan dan Idulfitri merupakan periode penting bagi industri TPT karena terjadi lonjakan permintaan domestik yang signifikan setiap tahun. Industri dalam negeri telah melakukan persiapan sejak awal tahun agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi dengan baik,” ujar Agus, Sabtu (14/3/2026).
Sepanjang 2025, sektor IKFT tercatat tumbuh sekitar 5,11 persen dengan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional sebesar 3,87 persen. Nilai ekspor sektor ini mencapai sekitar USD 47,95 miliar dan mampu menyerap hingga 6,71 juta tenaga kerja.
Sementara itu, subsektor tekstil dan pakaian jadi tumbuh sekitar 5,39 persen dan menyerap lebih dari 3,7 juta tenaga kerja, menegaskan peran strategis sektor ini sebagai industri padat karya yang berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.
Secara khusus, industri TPT juga menunjukkan kinerja stabil dengan pertumbuhan sekitar 4,64 persen. Kinerja ekspor sektor ini tetap meningkat meski di tengah dinamika perdagangan global, yang mencerminkan daya saing industri nasional masih terjaga.
Agus menambahkan, sektor TPT, alas kaki, serta kosmetik memiliki efek berganda yang besar terhadap perekonomian karena melibatkan rantai pasok panjang, mulai dari bahan baku, produksi, distribusi, hingga perdagangan ritel.
Selain produk sandang, peningkatan konsumsi juga terjadi pada produk penunjang penampilan seperti kosmetik dan perawatan diri. Hingga akhir 2024, industri kosmetik tercatat tumbuh sekitar 4,3 persen dengan nilai ekspor mencapai USD 382,4 juta.
Pemerintah juga terus mendorong peningkatan daya saing industri melalui berbagai kebijakan, seperti substitusi impor, fasilitasi investasi, peningkatan penggunaan produk dalam negeri, serta penguatan inovasi dan sertifikasi, termasuk sertifikasi halal.
Agus berharap momentum Ramadan juga dimanfaatkan masyarakat untuk lebih banyak membeli produk dalam negeri.
“Dengan membeli produk lokal, masyarakat tidak hanya mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi juga menjaga keberlangsungan industri serta kesejahteraan jutaan tenaga kerja di sektor ini,” katanya.
Ia optimistis, dengan dukungan berbagai pemangku kepentingan, industri TPT, alas kaki, dan subsektor terkait akan terus menjadi salah satu penggerak utama ekonomi nasional, terutama pada momentum Ramadan dan Idulfitri yang mendorong konsumsi domestik. [in]