DIALEKSIS.COM | Lhokseumawe - Rektor Universitas Malikussaleh (Unimal), Prof. Dr. Ir. Herman Fithra, S.T., M.T., IPM., ASEAN.Eng, menilai dorongan Presiden Prabowo Subianto untuk menjadikan Sabang-Andaman sebagai penghubung strategis Indonesia dan India merupakan momentum penting bagi Aceh.
Menurut Herman, gagasan tersebut tidak boleh dipandang sebatas proyek konektivitas pelabuhan. Lebih jauh, Sabang-Andaman dapat menjadi pintu baru perdagangan internasional Indonesia, terutama dalam memperkuat hubungan ekonomi, logistik, maritim, dan investasi antara Aceh, Indonesia, dan India.
“Ini peluang besar bagi Aceh. Sabang bisa menjadi simpul perdagangan internasional Indonesia dengan India. Kalau dikelola serius, konektivitas Sabang-Andaman akan mendongkrak ekonomi Aceh dan menjadi lokomotif baru pertumbuhan daerah,” kata Herman kepada Dialeksis.com saat dihubungi, Kamis (9/7/2026).
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan dukungan terhadap pembangunan pelabuhan di Kepulauan Andaman dan Nicobar, India, serta pengembangan Pelabuhan Sabang di Aceh sebagai penghubung strategis antara Pulau Sabang dan Kepulauan Andaman-Nicobar. Pernyataan itu disampaikan Prabowo usai pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri India Narendra Modi di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (7/7/2026).
Herman mengatakan, secara geografis Sabang memiliki posisi yang sangat kuat karena berada di gerbang barat Indonesia dan berhadapan langsung dengan jalur pelayaran internasional. Karena itu, menurutnya, Aceh tidak boleh hanya menjadi penonton dari perubahan peta ekonomi kawasan Indo-Pasifik.
“Sabang berada di posisi yang sangat strategis. Ia bukan sekadar titik paling barat Indonesia, tetapi pintu masuk penting ke Samudra Hindia. Bila Sabang terhubung kuat dengan Andaman, maka Aceh dapat mengambil peran lebih besar dalam rantai pasok kawasan,” ujar Herman.
Ia menilai, peningkatan konektivitas Sabang-Andaman dapat memperkuat hubungan dagang Aceh dan Indonesia dengan India. Potensi yang dapat dikembangkan tidak hanya sektor pelabuhan, tetapi juga perdagangan komoditas, perikanan, pertanian, industri halal, pariwisata, energi, pendidikan, hingga kerja sama riset dan teknologi.
Menurut Herman, India merupakan salah satu kekuatan ekonomi besar Asia dengan pasar yang luas. Karena itu, Aceh perlu menyiapkan diri agar produk lokal mampu masuk ke pasar internasional secara lebih kompetitif.
“India adalah pasar besar. Aceh memiliki kopi, nilam, rempah, hasil perikanan, produk pertanian, hingga potensi industri halal. Tetapi semua itu harus disiapkan dengan standar ekspor, kualitas logistik, sertifikasi, dan jejaring dagang yang kuat,” katanya.
Herman menegaskan, kunci keberhasilan Sabang-Andaman tidak hanya terletak pada pembangunan fisik pelabuhan. Lebih dari itu, diperlukan ekosistem ekonomi yang lengkap, mulai dari regulasi yang ramah investasi, kepastian hukum, konektivitas antardaerah di Aceh, fasilitas logistik modern, pelayanan kepabeanan yang cepat, hingga kesiapan sumber daya manusia.
“Pelabuhan tidak boleh berdiri sendiri. Harus ada kawasan industri, cold storage, gudang logistik, digitalisasi layanan pelabuhan, akses transportasi darat, dan dukungan hinterland dari berbagai kabupaten/kota di Aceh. Kalau tidak, Sabang hanya menjadi tempat singgah, bukan pusat pertumbuhan,” ucapnya.
Sebagai akademisi, Herman melihat gagasan Presiden Prabowo tersebut harus diterjemahkan menjadi peta jalan pembangunan ekonomi Aceh. Pemerintah Aceh, Pemerintah Kota Sabang, BPKS, dunia usaha, kampus, dan pelaku UMKM harus duduk bersama menyusun langkah konkret.
Ia menyebut, Unimal siap berkontribusi melalui kajian akademik, riset kebijakan, penguatan sumber daya manusia, dan pengembangan inovasi yang mendukung konektivitas maritim Aceh.
“Kampus harus hadir. Perguruan tinggi tidak boleh hanya menjadi penonton. Unimal siap mendukung melalui riset, kajian ekonomi maritim, teknologi pelabuhan, manajemen logistik, hingga penguatan kapasitas SDM Aceh agar mampu bersaing dalam ekosistem perdagangan internasional,” kata Herman.
Herman juga mengingatkan, kejayaan Pelabuhan Sabang di masa lalu harus menjadi inspirasi untuk membangun masa depan. Menurutnya, Sabang pernah dikenal sebagai salah satu simpul penting pelayaran dan perdagangan di kawasan. Kini, peluang untuk mengembalikan posisi strategis itu kembali terbuka.
“Ini momentum mengembalikan kejayaan Pelabuhan Sabang. Tetapi kejayaan itu tidak akan datang hanya karena letak geografis. Ia harus diperjuangkan melalui kebijakan yang tepat, investasi yang terarah, tata kelola yang profesional, dan keberanian Aceh masuk ke pasar global,” ujarnya.
Ia menambahkan, konektivitas Sabang-Andaman juga harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat Aceh. Dampaknya harus terasa pada peningkatan lapangan kerja, tumbuhnya UMKM ekspor, meningkatnya aktivitas pelabuhan, terbukanya investasi, dan naiknya pendapatan daerah.
“Ukuran keberhasilannya bukan hanya kapal datang dan pergi. Ukurannya adalah apakah masyarakat Aceh mendapat manfaat. Apakah nelayan, petani, pelaku UMKM, pengusaha lokal, anak muda, dan tenaga kerja Aceh ikut naik kelas. Itu yang harus menjadi orientasi,” kata Herman.
Menurut Herman, Presiden Prabowo telah membuka ruang strategis. Kini, tugas daerah adalah memastikan peluang tersebut tidak berhenti sebagai wacana.
“Aceh harus bergerak cepat. Kalau Sabang-Andaman menjadi koridor strategis Indonesia-India, maka Aceh harus menyiapkan diri sebagai pusat nilai tambah, bukan sekadar halaman depan Indonesia. Ini kesempatan besar menjadikan Sabang sebagai lokomotif ekonomi Aceh,” pungkasnya.