DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Dalam suasana hangat silaturahmi Lebaran di kediaman Dr. M. Gaussyah, S.H., M.H., Rektor Universitas Batam sekaligus mantan Rektor Universitas Syiah Kuala dua periode, Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng., IPU., ASEAN.Eng., menyampaikan pandangan kritisnya tentang masa depan Bank Aceh Syariah (BAS). Diskusi santai bersama Dialeksis ini menyinggung urgensi transformasi lembaga keuangan milik masyarakat Aceh tersebut agar selaras dengan kebutuhan pembangunan ekonomi daerah.
Prof. Samsul menekankan, BAS membutuhkan sosok pemimpin definitif yang terbukti kompeten, berintegritas, dan mampu mengubah citra bank dari yang selama ini dianggap “konsumtif” menjadi “pro-ritel” yang mendorong kemajuan industri UMKM dan sektor produktif.
“Image Bank Aceh belum berubah. Perlu inovasi dan kreativitas tinggi sebagai lembaga keuangan untuk menggeser mindset lama ke orientasi baru yang berpihak pada ekonomi riil,” tegasnya.
Ia menambahkan, calon direktur BAS haruslah seorang bankir profesional yang mampu membangun komunikasi efektif dengan seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah dan pelaku usaha.
“Kemauan keras untuk mentransformasi bank ini menjadi kunci. Tidak cukup hanya jargon, tetapi perlu aksi nyata,” ujar Prof. Samsul.
Lebih lanjut, guru besar ini menyoroti potensi generasi muda Aceh (Gen Z/milenial) yang dinilainya penuh ide kreatif namun kerap terkendala akses modal. “Mereka perlu diberi ruang melalui skema pendanaan yang mudah diakses, disertai pendampingan bisnis. Ini akan memperkuat kemandirian ekonomi berbasis UMKM,” paparnya.
Tak kalah penting, BAS diharapkan menjadi penopang visi-misi Gubernur Aceh terpilih, Muzakir Manaf, khususnya dalam pengembangan sektor prioritas seperti pertanian, peternakan, dan perikanan.
“BAS wajib mendukung program pemerintah, tentu dengan tetap mematuhi regulasi perbankan yang sehat,” tegas Prof. Samsul.
Di akhir diskusi, Prof. Samsul mendesak percepatan pengangkatan direktur definitif BAS disertai penyusunan grand design yang melibatkan sinergi multipihak.
“Bank harus berkolaborasi dengan pemerintah dan Kadin Aceh untuk membuat desain besar yang menjadi pijakan bersama dalam memajukan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi tidak mungkin optimal tanpa peran bank sebagai penggerak sirkulasi keuangan,” jelasnya.
Menutup perbincangan, ia mengingatkan: “Bank bukan hanya tentang profit, melainkan instrumen strategis untuk menciptakan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat. Ini tanggung jawab kita bersama.”
“Transformasi BAS bukan sekadar perubahan internal, melainkan langkah vital untuk menjawab tantangan ekonomi Aceh ke depan. Kolaborasi antara kepemimpinan progresif, dukungan pada UMKM, dan keselarasan dengan kebijakan daerah menjadi kunci agar BAS tak hanya menjadi “bank milik rakyat” secara nama, tetapi juga dalam aksi nyata,” tutupnya.