DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Di tengah padatnya bisnis warung kopi di Banda Aceh, hanya segelintir yang mampu keluar dari pola lama. Selebihnya cenderung seragam: kopi, meja, dan percakapan. Namun, Djaya Kuphi Premium memilih jalur berbeda menggabungkan konsep ruang, ragam menu, dan pendekatan layanan yang lebih terstruktur.
Terletak di Jalan Sultan Iskandar Muda menuju Ulee Ulee, tempat ini perlahan menjadi magnet baru bagi penikmat kopi dan keluarga. Dalam beberapa bulan terakhir, arus pengunjung terus meningkat, terutama pada akhir pekan dan malam hari.
Pemilik Djaya Kuphi Premium, Teuku Makmun, mengatakan sejak awal ia tidak ingin sekadar membuka warung kopi. “Kami ingin menghadirkan tempat yang nyaman untuk semua kalangan, bukan hanya untuk ngopi, tapi juga untuk makan dan berkumpul bersama keluarga,” ujarnya saat ditemui Dialeksis, Jumat (8/5/2026).
Konsep itu tampak dari penataan ruang yang bersih dan rapi, dengan area duduk yang cukup luas. Salah satu pembeda yang mencolok adalah keberadaan ruang VIP yang bisa digunakan tanpa biaya tambahan. Di banyak tempat, fasilitas serupa biasanya berbayar. Di sini, pengunjung cukup datang dan menikmati.
Dari sisi menu, Djaya Kuphi Premium tidak hanya mengandalkan kopi sebagai daya tarik utama. Pilihan minuman cukup beragam mulai dari kopi saring, kopi mesin, hingga minuman non-kopi seperti mocktail, milk-based, dan minuman sehat. Segmentasi ini terlihat menyasar generasi muda sekaligus keluarga.
Menu makanan menjadi kekuatan lain. Pengunjung bisa menemukan nasi gurih, lontong, bubur ayam, hingga siomay dan batagor. Ada pula menu khas seperti bubur kacang hijau, ketan hitam, dan aneka olahan tahu. Tidak berhenti di situ, berbagai tenant kuliner turut meramaikan, menghadirkan pilihan dari soto Medan hingga masakan Minangkabau.
Model ini menjadikan Djaya Kuphi Premium lebih menyerupai pusat kuliner skala kecil ketimbang warung kopi konvensional. Dalam satu lokasi, pengunjung memiliki banyak opsi tanpa perlu berpindah tempat.
Bagi keluarga, fasilitas yang disediakan juga cukup relevan. Area bermain anak tersedia, disertai fasilitas dasar seperti musala dan toilet terpisah. Hal-hal semacam ini kerap luput dari perhatian pelaku usaha sejenis, tetapi justru menjadi faktor penentu bagi segmen keluarga.
Lokasinya yang berada di pinggiran kota memberi nilai tambah tersendiri. Suasana relatif lebih tenang dibanding pusat kota yang padat. Bagi sebagian pengunjung, ini menjadi alasan untuk datang mencari ruang yang tidak terlalu bising, namun tetap hidup.
Di balik operasionalnya, Djaya Kuphi Premium juga menyerap tenaga kerja lokal. Sekitar 35 karyawan bekerja di berbagai lini, dengan komposisi yang cukup seimbang, termasuk keterlibatan perempuan. Selain itu, puluhan pelaku UMKM ikut terlibat sebagai tenant, menciptakan ekosistem usaha yang saling terhubung.
Untuk menjaga layanan tetap efisien, manajemen menerapkan sistem pencatatan pesanan yang lebih tertata. Pendekatan ini penting, terutama saat lonjakan pengunjung terjadi.
Djaya Kuphi Premium buka sejak pagi hingga dini hari. Rentang waktu ini membuatnya fleksibel bisa menjadi tempat sarapan, makan siang, hingga nongkrong malam.
Di tengah persaingan yang semakin ketat, Djaya Kuphi Premium tampaknya tidak hanya menjual kopi. Ia menjual pengalaman: ruang yang nyaman, pilihan yang beragam, dan suasana yang ramah bagi siapa saja.
Pendekatan ini, setidaknya untuk saat ini, menjadi alasan mengapa tempat tersebut terus diserbu pengunjung. [arn]