Senin, 18 Mei 2026
Beranda / Gaya Hidup / Kuda Api SBY: Di Antara Anatomi, Imajinasi, dan Gelora Perdebatan Publik

Kuda Api SBY: Di Antara Anatomi, Imajinasi, dan Gelora Perdebatan Publik

Minggu, 22 Februari 2026 14:00 WIB

Font: Ukuran: - +

Reporter : Arn

Yusrizal Ibrahim Lamno, Pemerhati sosial, seni, budaya, dan politik. [Foto: Dokumen untuk dialeksis.com]


DIALEKSIS.COM | Aceh - Lukisan seekor kuda berbalut nyala api karya Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), terjual seharga Rp6,5 miliar dalam perhelatan Tahun Baru Imlek 2577 di Jakarta. Nilai fantastis itu sontak menyita perhatian publik. Namun, bukan hanya angka yang menjadi perbincangan, melainkan juga kualitas artistik karya tersebut.

Sejumlah perupa dan pengamat seni mempertanyakan aspek anatomis dan penguasaan warna dalam lukisan bertajuk Kuda Api itu. Di sisi lain, tak sedikit yang membela dengan argumen klasik: seni adalah ruang kebebasan, tak melulu tunduk pada pakem akademik.

Menanggapi polemik tersebut, Yusrizal Ibrahim Lamno, warga Banda Aceh yang dikenal peduli pada kemaslahatan bangsa, menilai perdebatan ini justru menarik dan penting bagi perkembangan literasi seni di ruang publik.

Perdebatan ini bukan semata soal siapa pelukisnya, tetapi membuka kembali diskusi lama tentang batas antara disiplin akademik dan kebebasan artistik,” ujar Yusrizal kepada Dialeksis, Ahad (22/2/2026).

Salah satu kritik yang mencuat adalah persoalan anatomi kuda. Dalam tradisi seni figuratif, pemahaman tentang struktur rangka, sendi, distribusi berat, hingga tegangan otot merupakan fondasi penting. Seekor kuda yang berlari, misalnya, memiliki logika gerak yang khas punggung melengkung, panggul mendorong, kaki membentuk ritme tumpuan.

“Tanpa penguasaan itu, figur bisa tampak melayang atau kehilangan momentum,” jelas Yusrizal.

Namun ia mengingatkan, sejarah seni rupa juga menunjukkan bahwa ketepatan anatomis bukan satu-satunya jalan menuju makna. Vincent van Gogh, misalnya, kerap mendistorsikan bentuk demi menghadirkan getaran batin. Demikian pula Joko Pekik atau Eddie Hara yang sengaja memelintir proporsi sebagai ekspresi kritik sosial atau imajinasi sureal.

“Pertanyaannya, apakah distorsi dalam Kuda Api lahir dari pilihan estetik yang sadar, atau dari keterbatasan penguasaan dasar? Distorsi yang kuat biasanya bertumpu pada penguasaan. Ia menyimpang karena tahu dari mana ia menyimpang,” ujarnya.

Secara visual, api dalam lukisan itu dimaksudkan sebagai metafora energi keberanian, vitalitas, dan daya juang. Dalam teori warna, pertemuan warna hangat seperti merah dan oranye dengan tubuh kuda semestinya menciptakan interaksi cahaya: pantulan pada badan, bayangan hangat di tanah, serta atmosfer yang ikut tersulut.

Jika api hanya hadir sebagai elemen terpisah tanpa memengaruhi ruang dan tubuh di sekitarnya, ilusi kedalaman menjadi lemah. Kontras gelap-terang, gradasi warna, serta relasi hangat-dingin adalah perangkat dasar untuk membuat api terasa “menyinari”, bukan sekadar “menempel”.

“Namun lagi-lagi, seni bukan ujian teori warna. Banyak karya ekspresionis sengaja mengabaikan konsistensi cahaya demi ledakan emosional. Yang penting, apakah pilihan itu menghadirkan pengalaman estetik yang utuh,” tambah Yusrizal.

Dari sisi komposisi, Kuda Api dinilai cenderung frontal, dengan horizon relatif datar dan minim perspektif atmosferik. Tanpa pelapisan ruang depan-tengah-belakang yang kuat, kesan kedalaman menjadi terbatas.

Dalam tradisi lukisan lanskap klasik, kedalaman ruang biasanya dibangun melalui penurunan saturasi di kejauhan, pendinginan warna di horizon, serta pelembutan detail. Tanpa itu, figur dan latar cenderung berada dalam satu bidang visual yang sama.

“Apakah kedataran ini strategi estetik atau sekadar kebetulan? Itu yang menjadi ruang diskusi,” kata Yusrizal.

Tak dapat dipungkiri, harga Rp6,5 miliar ikut memantik respons emosional. Dalam dunia seni, nilai ekonomi tidak selalu identik dengan mutu estetik. Harga kerap merupakan hasil pertemuan reputasi, jejaring sosial, momentum politik, serta daya koleksi pasar.

SBY bukan hanya pelukis, tetapi juga figur publik dengan rekam jejak panjang dalam politik Indonesia. Nama besar menciptakan konteks, dan konteks turut memengaruhi nilai sebuah karya.

“Yang ramai mungkin bukan semata anatomi kudanya, tetapi relasi antara kuasa simbolik dan legitimasi estetik,” ungkap Yusrizal.

Menurut Yusrizal, kritik seni idealnya bekerja sebagai pisau bedah analitis, bukan palu godam emosional. Ia mengurai struktur, membaca tanda, menimbang konteks, lalu menyimpulkan dengan argumentasi terbuka.

Menilai lukisan ekspresif dengan standar fotografi tentu keliru. Namun menolak semua ukuran teknis atas nama kebebasan juga problematis. “Seni memang bebas, tetapi kebebasan yang matang biasanya lahir dari kesadaran, bukan dari pengabaian,” tegasnya.

Bagi Yusrizal, Kuda Api mungkin berada di antara dua kutub: dorongan ekspresif yang kuat dan tuntutan disiplin akademik yang belum sepenuhnya terasa solid. Apakah ia mahakarya atau tidak, waktu dan sejarah yang akan menjawab.

Yang jelas, lukisan tersebut telah memantik diskusi publik tentang seni rupa -- sesuatu yang jarang terjadi di tengah dominasi perdebatan politik.

“Di negeri yang lebih sering gaduh soal kekuasaan, perdebatan tentang anatomi, warna, dan komposisi justru angin segar. Mungkin di situlah nilai terbesarnya. Bukan hanya pada kuda yang menyala, tetapi pada percakapan yang ikut menyala karenanya,” pungkas Yusrizal Ibrahim Lamno, pemerhati sosial, seni, budaya, dan politik. [arn]

Keyword:


Editor :
Redaksi

riset-JSI